Rabu, 05 November 2025

SEKOLAH SENJA

SEKOLAH SENJA

Oleh Trudonahu Abdurrahman Raffles

05 Nov 2025 16:02 WIB - Cerpen Kompas Digital


Agak lama ia tertegun menatap pohon itu. Seolah ada banyak hal melintas di benaknya. 

Kalaupun ada yang lebih senyap dari kesunyian, berkesan hening sekaligus berbalut keriuhan, mungkin itu rindu. Tanpa mesti menilik, tanpa harus dikatakan, kerinduan sejatinya selalu tak mudah disembunyikan. 

Dari balik jendela seorang perempuan uzur melangkah menuju bangunan yang konon didirikan seusai meletusnya Gestapu. Rangkaian bangunan tua namun kokoh, jelas lebih teruji dibanding proyek pemerintah di masa sekarang. Batang-batang kayu penahan gentingnya masih membentang tanpa sedikit pun dikeremus rayap. Demikian juga daun pintu serta jendela. Tentu dulu materialnya dari jenis terpilih. Bukan berbahan pokok jati muda yang terlalu awal ditebang sebab ingin segera diuangkan. 

Ada kabar dari sesepuh kampung bahwa proses pengerjaannya terhitung panjang. Si pemborong yang berasal dari kota B bahkan sempat menikahi gadis tercantik di sana lalu memiliki sepasang anak. Setelah proyek selesai, keberadaan si pemborong tak lagi diketahui. Mungkin berpindah proyek dan menikahi gadis lain. Mungkin sudah mati. Dua anaknya kerap berkisah dengan congkak jika bangunan yang dijadikan tempat bermain itu adalah hasil karya bapaknya.  

Bila kebetulan ada tamu atau kerabat yang mengunjungi penduduk sekitar, biasanya mereka berpendapat bahwa bangunan itu awalnya diperuntukkan sebagai rumah sakit. Namun entah kenapa jadi sekolah menengah terluas di wilayah itu. Anggapan yang tak keliru sebetulnya. Desain, ruang kelas, lorong-lorong, seolah menggambarkan pendapat mereka. Terutama untuk yang pertama kali berkunjung dan datang di malam hari. Suara alas kaki akan terdengar nyaring menggema saat melintasi lorongnya. Persis suasana ketika menyusuri selasar rumah sakit. 

Dengan tertatih perempuan tersebut menyusuri kelas demi kelas lalu terhenti di depan lapangan upacara, pada bagian tanah berumput. Ia kemudian duduk di atas bangku beton yang sengaja dibuat untuk menjadi tempat berkumpul para siswa saat jam istirahat. 

Hari berderap membawa serta kesunyian. Kompleks yang terdiri dari sepuluh rumah di sekeliling bangunan sekolah itu ikut pula terbawa suasana bungkam. Hanya suara binatang malam yang mulai sesekali terdengar. Dahulu, saat masih sedikit tenaga pengajar, pihak sekolah menawari guru-guru untuk memiliki tanah di sekeliling sekolah dan dibantu proses pembelian tanahnya. Hal demikian dilakukan berdasarkan beberapa alasan. Pertama, tak ada pengajar yang berasal dari penduduk setempat sehingga didatangkan dari luar daerah, dan mereka memboyong keluarganya. Kedua, supaya tempat tersebut tak berkesan menyeramkan sekaligus terjaga keamanannya. 

”Kau belum pulang, Nak?” tanya si perempuan kepada seorang siswi yang berjalan melintas. 

”Iya, Bu. Kebetulan saya selalu pulang paling akhir dibanding yang lain,” jawab anak itu seraya mendekat dan mencium tangan perempuan tua itu sebagai tanda hormat. 

”Begitu? Duduklah sejenak di sini. Temani ibu.” 


”Baiklah. Dengan senang hati. Sepertinya ibu sedang perlu kawan bicara, tak berbeda seperti saya,” timpal anak itu. 

Keduanya saling tersenyum hangat layaknya ibu dan anaknya, atau nenek dan cucunya, atau juga dua sahabat. 


”Aku pertama mengenal tempat ini sekira lima puluh tahun lalu, saat tak banyak orang berani melewati tempat ini selepas rebah mentari. Sebelum beberapa gedung baru dibangun dengan meratakan bangunan lama, meski yang lama masih sangat layak dipakai.” Perempuan tua mulai menyambung perbincangan. 

Anak itu mengangguk-angguk. 

”Dahulu tak banyak memang yang bisa diharapkan mengenai kesejahteraan. Selain gaji seadanya, kami hanya mendapat jatah beras bulanan dengan kondisi kadang berkutu. Namun, suasana kerja terasa penuh kedamaian. Bila sedang butuh tambahan uang, para pengajar membuat rangkuman dalam bentuk diktat. Itu pun disindir oleh murid dan orangtua murid dengan sebutan diktator: jual diktat, beli motor, he-he-he...” dengan tergelak si ibu berkisah. 

”Sekarang lain. Meski para pengajar terlihat sejahtera, terbukti dari lapangan parkir luas yang penuh oleh mobil-mobil guru, tetapi ada yang terasa hambar. Tak kental lagi etos mendidik dari mereka. Memang masih terlihat, tapi tak macam dahulu.” 

”Hampir semua diukur dengan uang ya, Bu?” ujar si anak perempuan seraya terkekeh. 

”Nah, ternyata kamu juga paham.” 

Keduanya tertawa bersamaan. 


Kemudian beberapa waktu kemudian anak itu berkata, ”Bu, boleh saya bicara?” 

”Tentu saja, Nak. Kau memang kuajak duduk bersama supaya kita dapat saling menemani. Dan bukankah teman biasanya saling bicara?” 

”Sebenarnya saya sudah sejak lama memperhatikan Ibu tanpa Ibu sadari. Orang-orang yang datang ke sini, entah sebagai murid, guru, karyawan, satpam, dan sebagainya, bertujuan untuk mengambil keuntungan. Ya, mengambil keuntungan, sedangkan Ibu, serta penduduk sini, tak banyak diuntungkan selain menerima dampak buruknya. Kebisingan, pengacuhan, entah apa lagi. Jadi saya sangat memahami keresahan yang Ibu sampaikan.” 

Ibu tua menarik napas perlahan, lalu mengeluarkannya dengan mimik penuh kelegaan. Mungkin sebab masih ada yang dapat diajak berbincang pada sore itu. Mungkin pula ia bersyukur menemukan seseorang yang paham isi hatinya. 

”Kamu senang sekolah di sini?” tanya sang ibu tua. 

”Tentu, Bu. Semua anak pada dasarnya senang sekolah. Terutama karena bisa bertemu kawan sebaya.” 

”Hanya.…” Anak itu tiba-tiba menghentikan kalimatnya. 

”Sudahlah. Tak apa jika kau enggan bercerita. Terkadang tidak semua hal harus diceritakan,” ujar si ibu tua seolah memaklumi. 

”Maaf, Bu. Saya sekadar mengumpulkan dulu keberanian untuk menjawab jujur pertanyaan Ibu,” ungkap anak itu. 

”Sebetulnya saya lelah, Bu. Berada di sekolah selama hampir sembilan jam, ditambah perjalanan pergi-pulang, serbuan tugas pelajaran yang bagai ombak memburu pantai, itu sama sekali bukan hal yang menyenangkan. Belum lagi ekstrakurikuler di luar jam sekolah. Energi saya lumayan terkuras.” 

Iklan - Gulir ke Bawah untuk melajutkan
Iklan

”O begitu. Pantas kau masih di sini, sementara kawan-kawanmu sudah pulang.” 

”Saya juga heran dengan kebijakan sekolah. Para murid diwajibkan membayar sumbangan walau sudah dilarang oleh pemerintah. Ada saja cara sekolah menggiring pembayaran tersebut. Dengan dalih rapat wali murid, lewat pesan telepon, dan sebagainya. Padahal, proposal bangunan yang dirapatkan adalah proposal yang sama dengan sekian tahun lalu,” ungkap anak perempuan itu. 

Saya juga heran dengan kebijakan sekolah. Para murid diwajibkan membayar sumbangan walau sudah dilarang oleh pemerintah.

”Satu waktu mama saya pernah berkata, sekolah terbaik di masa sekarang adalah di rumah. Diajari oleh ibu dan bapaknya. Sekolah umum sebetulnya hanya berfungsi sebagai tambahan. Namun, di zaman ini, orangtua mana yang sanggup mengajar sendiri anak-anaknya di rumah? Kalaupun ada, mungkin hanya sekadarnya.” Siswi perempuan itu seolah ingin terus meluapkan isi hati. 

”Mamamu boleh jadi benar. Sering kali di zaman sekarang, hal-hal yang paradoksal justru lebih pantas dijadikan acuan. Omong-omong, aku suka caramu menyatakan pendapat. Cantik, seperti parasmu, meski sedikit pucat. Mungkin karena kau terlalu lelah.” 

”Ah, Ibu bisa saja,” ujar anak itu sambil tersipu. 

Pandangan mata sang perempuan tua kemudian tertuju pada sebatang pohon semboja yang bunganya sedang bermekaran. Agak lama ia tertegun menatap pohon itu. Seolah ada banyak hal melintas di benaknya. 

”Kadang terasa baru kemarin saja aku sering berjalan melewati pohon semboja itu jika hendak masuk ruang kelas, tapi tak pernah kuperhatikan keindahan bunganya. Mungkin waktu itu pohonnya belum sebesar sekarang. Mungkin pula karena tak punya banyak kesempatan menatapnya lama-lama.” 

”Begitulah kita ini, Bu. Selalu abai pada hal-hal kecil, lalu seolah terkejut setelah segalanya jadi besar. Eh, saya kok terkesan sok tahu ya?” 

Kini ganti perempuan tua itu yang tersenyum. 

”Kamu sungguh menarik, Nak. Sekali lagi, aku suka padamu.” 

”Saya pun menyenangi Ibu. Dan sudah sejak lama. Terima kasih sudah mengajak berbincang. Saya mohon pamit. Masih ada hal lain untuk dikerjakan,” ujar anak itu seraya meraih tangan si perempuan tua dan menciumnya. 

”Baiklah. Lagi pula hari sudah makin gelap. Makin malam nanti kau tiba di rumah. Salam untuk mamamu, ya.” 

Saat azan Maghrib berkumandang, perempuan itu kembali ke rumahnya yang hanya sekian puluh meter dari bangunan sekolah. 

”Ibu dari mana? Kami khawatir Ibu belum pulang, sementara hari menjelang malam. Si Aa tadi sudah mencari Ibu ke rumah tetangga. Siapa tahu Ibu sedang mengobrol dengan mereka. Tapi mereka bilang tak melihat Ibu semenjak siang,” tanya menantu perempuannya. 

”Aku berjalan-jalan sejenak ke sekolah. Sekadar mengilas balik saja. Rasanya baru kemarin aku rutin memasuki kelas-kelas di sana untuk mengajar. Setelah pensiun dan bertahun-tahun tak memperhatikan tempat itu, ternyata banyak juga perubahannya.” 

”O ya, tadi aku bertemu anak perempuan yang masih berkegiatan di sana. Entah apa yang dikerjakan. Tapi dia hanya sendiri. Kami sempat mengobrol sejenak,” tambah perempuan uzur itu.

Menantunya sedikit tertegun dengan pernyataan tersebut. Setahu dia semua aktivitas di sekolah sudah dihentikan semenjak pukul lima sore. Apalagi sejak ada peristiwa tragis terkait tewasnya seorang siswi saat study tour ke tempat wisata di luar provinsi. Peristiwa yang sebetulnya sangat disembunyikan oleh pihak sekolah agar tidak diketahui publik. Anak itu kebetulan menjabat sebagai ketua OSIS. 

Jumat, 2 Mei 2025. 05.00 WIB 

Trudonahu Abdurrahman Raffles, penulis berdarah Minang, tapi lahir di Tanjung Karang, Lampung, April 1974. Sejak kecil bersekolah dan hingga kini berdomisili di Cianjur, Jawa Barat. Beberapa karyanya dimuat oleh media lokal dan nasional. Juara kedua Sayembara Cerpen Nasional yang diadakan oleh Program Pascasarjana UNM Makassar tahun 2013. Buku kumpulan cerpennya, Perjalanan Itu Pendek, Kenangan yang Panjang, diterbitkan pada tahun 2020.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UNGGULAN

Mantra pecaruan

Dikutip dari  Mantra pecaruan ayam brumbun  bertujuan menyucikan tempat dan menyeimbangkan energi negatif (Bhuta Kala), terutama di tengah a...