Kamis, 17 September 2026

Hikayat

Dengarkan simakan ini 
https://youtu.be/NpDnf1Vt7FA?si=6QkHkV871T4Shbwc 

Pertanyaan “Mengapa”

  1. Mengapa Sa-Ijaan dan Ikan Todak dapat menjadi sahabat?

  2. Mengapa Ikan Todak bersedia membantu Sa-Ijaan?

  3. Mengapa Sa-Ijaan mengalami kesulitan dalam kehidupannya?

  4. Mengapa hubungan persahabatan Sa-Ijaan dan Ikan Todak menjadi penting dalam cerita?

  5. Mengapa masyarakat dalam hikayat tersebut memberikan perhatian terhadap Ikan Todak?

  6. Mengapa Sa-Ijaan merasa perlu membalas kebaikan Ikan Todak?

  7. Mengapa konflik antara tokoh-tokoh dalam hikayat tersebut dapat terjadi?

  8. Mengapa tindakan yang dilakukan oleh tokoh tertentu memengaruhi jalan cerita?

Pertanyaan “Bagaimana”

  1. Bagaimana awal mula perkenalan Sa-Ijaan dengan Ikan Todak?

  2. Bagaimana cara Ikan Todak membantu Sa-Ijaan ketika mengalami kesulitan?

  3. Bagaimana sikap Sa-Ijaan terhadap Ikan Todak sepanjang cerita?

  4. Bagaimana konflik dalam hikayat tersebut akhirnya berkembang?

  5. Bagaimana cara tokoh utama menghadapi permasalahan yang terjadi?

  6. Bagaimana hubungan antara Sa-Ijaan dan Ikan Todak menunjukkan nilai persahabatan?

  7. Bagaimana amanat hikayat tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Selasa, 15 September 2026

Gendis Menulis

Gendis Menulis
Oleh 
Muhammad Fariz Ardan Fitriansyah


Di bawah rembulan yang nampak cerah dan penuh, Gendis masih berkutat menyelesaikan tugas sekolah tentang cerita masa liburan. Tak ada yang benar-benar spesial dari liburannya kali ini. Mungkin, hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya berkunjung ke rumah sanak saudara, membantu ibu mencuci pakaian, memijat Mas Gayuh kala malam, dan duduk memperhatikan kilau cahaya pada permukaan air depan rumah. Karena tak ada teman bermain, Gendis hanya mengobrol dan bermain dengan Mas Gayuh yang baru pulang kerja. Beberapa temannya telah pindah rumah, rumah barunya benar-benar menapak tanah. Mereka bisa leluasa bermain di depan rumahnya, tak seperti rumah Gendis. 

Rumah Gendis seperti resor eksklusif di Maladewa, dengan air laut mengelilingi seluruh rumahnya. Bedanya, lokasinya di pesisir utara dan interior rumahnya tak seindah resor. Hanya ada lampu di ruang tengah, TV kecil yang agak berdebu, dan papan kayu reyot yang selalu mengeluarkan bunyi ketika diinjak. Namun, Gendis kecil selalu suka dengan bunyi kayu reyot. Sudah beberapa kali rumah Gendis dan beberapa tetangganya ditinggikan. Namun, air laut terus naik seakan hendak menyapa kaki para warga setempat. 

”Mas, nek dulu rumah kita seperti apa?” tanya Gendis sambil beralih dari posisi tengkurap menuju bersila. 

”Emm, waktu mas kecil, halaman rumah kita luas. Biasanya ibu jemur pakaian di sana,” jawab Gayuh seraya menunjuk ke hamparan air tak tentu. ”Dulu daerah sini subur, Ndis. Banyak tumbuhan dan sawah,” sambungnya. 

”Terus, biasanya bapak dulu ngapain?” tanya Gendis. Ingatan akan bapaknya terasa samar. 

”Bapak dulu suka ngopi dan ndongeng kalo malam,” jawab Gayuh sekenanya. 

Usai mendengar jawaban Mas Gayuh, Gendis berfokus kembali ke buku tulisnya, mencatat perkataan Mas satu-satunya. Beberapa kali berpikir panjang tentang hal yang sulit ia deskripsikan. Terkadang tulisannya bercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bu guru tak masalah dengan hal tersebut, mungkin beberapa saja ia kena tegur. Ceritanya masih kurang satu halaman untuk selesai. 

Quote

Kata ’proses’ dan ’data’ terus terngiang-ngiang dalam kepala Gendis.

Siang tadi, ada rombongan mahasiswa datang ke rumah tetangga Gendis. Mereka berpakaian seperti orang biasa. Gadis kecil itu menjadi penasaran. Awalnya ia tak tahu siapa dan apa arti mahasiswa, setelah bertanya pada ibunya yang sedang membuat kopi untuk para mahasiswa, ia segera paham. ”Mahasiswa itu sama seperti kamu yang sedang sekolah. Tapi, sekolahnya khusus,” jawab ibunya. Berarti kelasnya luas ya. Belajarnya saja sampai ke rumahku, pikir Gendis. Mereka tampak sibuk mengobrol dan memotret lingkungan sekitar. Ah, bosan sekali menjadi mahasiswa. Lebih enak main. 

Gendis menggigit ujung pensil kayunya. Lalu menulis pelan-pelan. 

Hari ini kakak-kakak mahasiswa datang. Mereka memfoto rumahku. Mungkin rumahku bagus seperti di televisi. 

Ia berhenti sebentar, memalingkan wajahnya ke arah luar. Air laut berkilau terkena cahaya bulan, seperti banyak bintang yang jatuh dan mengambang. 

”Mas,” panggilnya lagi. 

”Hmm?” 

”Kalau rumah kita difoto, nanti masuk TV, ya?” 


Gayuh tersenyum kecil, tapi tidak langsung menjawab. ”Bisa jadi,” akhirnya mulutnya mengucapkan sesuatu. Ia masih lelah sepulang kerja, tetapi menyempatkan hadir kala adiknya belajar. 


Gendis mengangguk-angguk. Ia membayangkan dirinya melambaikan tangan dari layar televisi kecil mereka. Barangkali teman-temannya yang pindah dapat melihatnya. Ia lalu membuka halaman sebelumnya, menambahkan satu kalimat singkat. 

Kemarin juga ada bapak-bapak nenteng banyak kertas. 

Ia ingat siang itu. 

Kemarin siang, sehari sebelum para mahasiswa datang, ada tiga pria berseragam putih berdiri di depan rumah. Celana mereka digulung sampai lutut. Ada yang memegang map tebal berisi kertas, ada yang memayungi seseorang, dan ada yang dipayungi sembari mengelap keringat menggunakan sapu tangan Louis Vuitton. 

”Ibunya Gendis?” tanya pria bersapu tangan memastikan. 

”Nggih, Pak. Leres.” 

Mereka tidak masuk. Hanya berdiri di ambang pintu. Sesekali mata mereka fokus ke arah bawah, khawatir pijakannya tak seimbang dan tercebur. Pegawai negeri harus tetap bersih dan berwibawa. 

”Ada pendataan lagi. Untuk pendataan sama relokasi,” kata pria itu sambil menerima map dari temannya. 

Gendis berdiri di belakang ibunya, mengintip. 

Pria itu menyebutkan beberapa nama. Nama tetangga sebelah disebut. Bahkan, nama Bu Rani juga disebut. Gendis ingat betul Bu Rani, masakannya enak. Akan tetapi, Bu Rani sudah pindah agak lama. Masakannya yang lezat juga sepertinya dimasak di rumah barunya. 

”Ibu ikut daftar kemarin?” tanyanya. 

Ibu terdiam sebentar. Kemudian mendekap Gendis di sampingnya. ”Sudah, Pak. Dari tahun lalu.” 

Pria itu membalik beberapa lembar kertas. Lama. Kertasnya banyak sekali, sampai sedikit basah di ujung. 

”Wah, namanya belum masuk e, Bu,” ujar pria itu melanjutkan percakapan. 

”Belum masuk, Pak?” suara ibu pelan sekali. 

”Nggih, datanya belum lengkap,” katanya. ”Nanti dilengkapi saja ya.” 

 ”Yang kurang apa lagi, Pak?” 

Pria itu mengangkat bahu kecil. Lantas menoleh ke salah satu rekannya. ”Di sini cuma disuruh catat ulang.” Lalu ia menulis sesuatu. Cepat. Tanpa melihat ke dalam rumah. Tanpa memedulikan Gendis kecil menggelayut bingung di sebelah ibunya. Gendis melihat dengan saksama bagaimana tangan ibunya menggenggam ujung bajunya sendiri. 

Quote

Jawaban itu seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti bulan lalu, seperti yang sudah lalu.

”Kalau tidak masuk, tidak dapat bantuan, ya, Pak?” tanya ibu. 

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menutup mapnya. 

”Nanti dilihat lagi, Bu. Ini masih proses.” 

Setelah itu, mereka pergi. Air beriak mengikuti langkah mereka. 

Kata ”proses” dan ”data” terus terngiang-ngiang dalam kepala Gendis. 

Gendis kembali fokus ke bukunya. Ia menulis lagi. Kali ini pelan-pelan. 

Bapak-bapak itu bawa banyak kertas. Kertasnya basah sedikit. Kata ibu nama kita belum masuk. 

Ia berhenti menulis. Kata ”masuk” terasa aneh, pikirnya. Masuk ke mana? 

Ia menoleh ke ibunya. ”Ibu,” panggilnya pelan. 

”Iya, Ndis.” 

”Kalau nama kita masuk, nanti kita pindah, ya?” 

Ibu tak langsung menjawab. Tangannya masih sibuk melipat kain yang setengah kering. Mas Gayuh hanya menatap kedua anggota keluarganya itu. 

”Lihat nanti, ya,” katanya. 

Jawaban itu seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti bulan lalu, seperti yang sudah lalu. 

Angin malam masuk melalui celah-celah dinding kayu. Membawa bau asin yang sudah sangat dikenal. Tiba-tiba terdengar air beriak lebih keras dan deras dari biasanya. Gayuh menoleh. ”Ndis, coba lihat pintu depan.” 

Gendis beringsut turun dari dipan, kakinya menyentuh air yang lebih dingin. Ia berjalan pelan. Papan kayu berbunyi krek-krek di bawahnya. Saat membuka pintu, air sudah hampir menyentuh ambang. 

Quote

Ia menatap garis itu lamat-lamat. Banyak sekali. Seperti anak tangga, tapi tidak bisa dipanjat ke mana-mana.

 ”Mas, airnya naik lagi,” kata Gendis pelan. 

Gayuh berdiri, lalu mendekat. Wajahnya sedikit berubah, tapi ia tetap tenang. ”Ambil tasmu, sama buku-bukumu. Taruh di atas meja.” 

”Iya, Mas.” 

Gendis segera berlari kecil. Ia mengambil buku tulisnya yang masih terbuka, meniup dan menyeka halaman yang sedikit basah, lalu meletakkannya di tempat tinggi. Bersama tas dan sepatu sekolahnya. Hanya itu yang dia punya. Sementara dari arah dapur, ibunya juga dengan sigap mengangkat barang-barang dengan cepat. Rumah mereka kembali sibuk, seperti hari-hari sebelumnya. Namun, bagi Gendis ini seperti permainan yang diulang. 

Usai menyelamatkan barang-barangnya, Gendis duduk di dekat meja, memandangi bukunya. Air kini sudah menyentuh kakinya lagi, lebih tinggi dari hari-hari kemarin. Ia menoleh ke arah dinding, mencari garis-garis coklat. ”Mas ini lebih tinggi dari kemarin ya?” tanyanya. 

Gayuh melihat sebentar, lalu mengangguk. ”Iya, sedikit.” 

Gendis tersenyum kecil. Ia mengambil pensil, lalu berdiri di atas bangku. Dengan hati-hati, ia menarik garis baru di dinding, sedikit di atas garis-garis sebelumnya. ”Biar ngga lupa,” katanya. Ia menatap garis itu lamat-lamat. Banyak sekali. Seperti anak tangga, tapi tidak bisa dipanjat ke mana-mana. 

Setelah itu, Gendis kembali ke bukunya. Halaman terakhir masih setengah kosong. Malam semakin larut dan kantuk mulai terasa, bersama aroma laut yang kian menusuk. Namun, ia menulis lagi. 

Liburanku menyenangkan. Aku bermain air setiap hari. Airnya datang terus, makanya aku ngga bosan. 

Tangannya berhenti sebentar, mengucek mata yang kian sayu. 

Kadang ibu ngobrol pelan sama Mas tentang pindah. Tapi belum jadi-jadi. Katanya masih nunggu. 

Quote

Di luar, air terus naik perlahan. Seakan tidak ada urusannya dengan kertas-kertas di map tebal.

Ia mengingat kata itu. Data. Proses. Kata-kata orang dewasa yang sulit dipahami maksudnya. Ia tak kunjung mengerti. Ia menggambar garis kecil di samping tulisannya. Kini tulisannya miring. Seperti garis-garis di dinding. 

Di luar, air terus naik perlahan. Seakan tidak ada urusannya dengan kertas-kertas di map tebal. Ia melihat ibunya. Wajahnya lelah, tapi tetap diam. Ia menatap Mas Gayuh, berdiri, memandang keluar yang semakin dingin dan gelap. 

”Mas…” suaranya pelan. 

”Iya.” 

Gendis yang setengah sadar menatap garis itu. ”Kalau garisnya sudah penuh…kita pindah, ya?” Kini, Gendis sempurna jatuh dalam lelapnya.  

Gayuh membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Hanya sayup-sayup bunyi air yang menjawab, membawa gelombang nestapa. Ia membaca beberapa kalimat terakhir di buku catatan Gendis. 

Besok aku mau ziarah ke makam bapak. Tapi banjir. Pasti makam bapak tenggelam.

Bogor, 1 April 2026 

Muhammad Fariz Ardan Fitriansyah, Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan pernah belajar menulis di BPPM Balairung UGM

Minggu, 13 September 2026

Hikayat Putra Mahkota dan Burung Cenderawasih

Hikayat Putra Mahkota dan Burung Cenderawasih


Sebermula, tersebutlah kisah sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Indrapura. Negeri itu amatlah makmur dan rakyatnya hidup sentosa di bawah pemerintahan seorang raja yang adil lagi bijaksana. Raja itu bernama Baginda Maharaja Darmawangsa. Baginda mempunyai seorang putra mahkota bernama Raja Muda Ariawan yang elok parasnya serta baik budi pekertinya.

Syahdan, pada suatu hari, datanglah seorang tua menghadap baginda seraya membawa kabar bahwa di hutan sebelah timur terdapat seekor burung cenderawasih yang bulunya bercahaya seperti emas. Barang siapa berhasil menemukannya, niscaya akan memperoleh petunjuk untuk menyelamatkan negeri daripada bencana besar.

Maka bertitahlah baginda kepada para hulubalang, “Barang siapa berani mencari burung itu, akan beta anugerahi harta dan kemuliaan.”

Mendengar titah baginda, Raja Muda Ariawan pun menghadap seraya menyembah. “Ampun, tuanku. Patik mohon diizinkan pergi mencari burung cenderawasih itu.”

“Baiklah, anakanda. Pergilah dengan hati yang tabah. Janganlah anakanda menggunakan kekerasan kepada makhluk yang tiada berdosa,” titah baginda.

Hatta, berangkatlah Raja Muda Ariawan seorang diri menuju hutan. Setelah beberapa hari berjalan, sampailah ia di sebuah telaga yang airnya jernih seperti kaca. Di atas pohon yang tinggi hinggaplah seekor burung cenderawasih yang bulunya berkilauan.

Raja Muda pun berkata, “Wahai burung yang indah, gerangan apakah sebabnya engkau membawa petunjuk bagi negeri kami?”

Maka sahut burung itu, “Wahai putra mahkota, bencana akan datang bukan karena musuh yang kuat, melainkan karena keserakahan manusia. Jika engkau hendak menyelamatkan kerajaanmu, mintalah rakyat dan para pembesar hidup dengan adil serta jangan mengambil hak orang yang lemah.”

Alkisah, Raja Muda Ariawan kembali ke istana dan menyampaikan segala perkataan burung cenderawasih kepada baginda. Baginda pun tersadar bahwa kemakmuran negeri bukan semata-mata karena kekayaan, melainkan karena keadilan.

Maka baginda menitahkan seluruh pembesar agar mengurangi pajak rakyat miskin dan mengembalikan harta yang telah diambil dengan sewenang-wenang. Sejak saat itu, kehidupan rakyat menjadi semakin tenteram.

Maka tersebutlah Kerajaan Indrapura menjadi negeri yang terkenal karena keadilannya. Raja Muda Ariawan pun kelak menggantikan ayahandanya menjadi raja yang bijaksana.

Sebermula daripada kisah tersebut, dapatlah dipetik ibarat bahwa kekuasaan tanpa keadilan akan membawa celaka, sedangkan kebijaksanaan dan kejujuran niscaya membawa kesejahteraan.

Minggu, 06 September 2026

Draf Teks Anekdot

Orientasi

Suatu malam, terjadi kebakaran di sebuah rumah di tengah permukiman yang membuat warga panik dan berhamburan keluar membawa barang seadanya.
Pak Made segera menghubungi layanan pemadam kebakaran sambil berharap bantuan datang sebelum rumahnya berubah menjadi arang.

Komplikasi

Petugas layanan publik menerima laporan dengan sangat tenang sehingga warga yang panik merasa seperti sedang memesan makanan.
Proses penanganan berlangsung cukup lambat, sementara api justru bekerja dengan sangat cepat dan tanpa mengenal jam pelayanan.
Warga akhirnya bergotong royong mengambil ember dan air untuk memadamkan api sambil menunggu bantuan.
Ketika mobil pemadam akhirnya datang, sebagian bangunan sudah terbakar dan warga mulai mempertanyakan kecepatan pelayanan yang mereka terima.
Ironisnya, api yang tidak memiliki prosedur birokrasi justru berhasil menyelesaikan pekerjaannya jauh lebih cepat daripada layanan publik.

Evaluasi

Peristiwa tersebut menjadi sindiran bahwa layanan publik seharusnya bergerak secepat masalah yang harus ditangani, terutama ketika yang dihadapi adalah kebakaran.


Sesuai dengan nomor absen, silakan membuat draf teks anekdot!

| 1 | **Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil)** | Pembuatan KTP elektronik |

| 2 | Dinas Dukcapil | Pembuatan Kartu Keluarga (KK) |

| 3 | Dinas Dukcapil | Pembuatan akta kelahiran |

| 4 | Dinas Dukcapil | Pembuatan akta kematian |

| 5 | Dinas Dukcapil | Perubahan data kependudukan |

| 6 | Dinas Dukcapil | Perekaman dan aktivasi Identitas Kependudukan Digital |

| 7 | **Dinas Penanaman Modal dan PTSP** | Pengurusan izin usaha |

| 8 | Dinas Penanaman Modal dan PTSP | Penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui sistem perizinan |

| 9 | Dinas Penanaman Modal dan PTSP | Perizinan mendirikan atau mengembangkan usaha |

| 10 | Dinas Penanaman Modal dan PTSP | Konsultasi dan informasi perizinan |

| 11 | **Dinas Kesehatan** | Pelayanan kesehatan masyarakat melalui puskesmas |

| 12 | Dinas Kesehatan | Pemeriksaan kesehatan dasar |

| 13 | Dinas Kesehatan | Imunisasi |

| 14 | Dinas Kesehatan | Pelayanan kesehatan ibu dan anak |

| 15 | Dinas Kesehatan | Program pencegahan dan penanganan stunting |

| 16 | **Dinas Pendidikan** | Pendaftaran peserta didik baru |

| 17 | Dinas Pendidikan | Pelayanan administrasi pendidikan |

| 18 | Dinas Pendidikan | Pemberian informasi dan layanan terkait sekolah |

| 19 | Dinas Pendidikan | Pengelolaan bantuan pendidikan |

| 20 | Dinas Pendidikan | Pelayanan pengaduan masyarakat di bidang pendidikan |

| 21 | **Dinas Sosial** | Pendataan dan pelayanan bantuan sosial |

| 22 | Dinas Sosial | Penanganan masyarakat terlantar |

| 23 | Dinas Sosial | Pelayanan terhadap penyandang disabilitas |

| 24 | Dinas Sosial | Penanganan korban bencana dan masalah sosial |

| 25 | Dinas Sosial | Rujukan dan rehabilitasi sosial |

| 26 | **Dinas Perhubungan** | Pelayanan pengujian kendaraan bermotor |

| 27 | Dinas Perhubungan | Pengaturan dan pelayanan transportasi umum |

| 28 | Dinas Perhubungan | Pengelolaan parkir |

| 29 | Dinas Perhubungan | Pelayanan rekomendasi atau izin terkait lalu lintas |

| 30 | **Dinas Pekerjaan Umum** | Pemeliharaan dan perbaikan jalan |

| 31 | Dinas Pekerjaan Umum | Penanganan saluran drainase |

| 32 | Dinas Pekerjaan Umum | Pengelolaan infrastruktur air |

| 33 | **Dinas Lingkungan Hidup** | Pengelolaan dan pengangkutan sampah |

| 34 | Dinas Lingkungan Hidup | Pelayanan pengaduan pencemaran lingkungan |

| 35 | **Dinas Perpustakaan dan Kearsipan** | Pelayanan perpustakaan dan peminjaman buku |


Kamis, 20 Agustus 2026

Gerbang Rumah Tua

Gerbang Rumah Tua
Karya Luh Arik Sariadi

Cukup lama aku menantimu
di balik kaca datar yang buram
aku melihat udara bercampur air
segera membawa badai hatiku

Sudah sangat lama lapar ini
bisakah kata-kata bikin kenyang
sementara massa sudah berteriak
samar antara girang atau garang

di gerbang rumah tua
sisa kain demonstrasi 
di pasang berwarna warni
memanggilmu kembali untukku

jelas, kaulah berjanji bertemu
menipu pemuda seperti aku
aku hanya menunggu
dengan dungu di siku kaki
yang terhimpit sampai pagi

Selasa, 18 Agustus 2026

Sastrawan, Karya, dan Jaminan Hidup di Hari Tua

Sastrawan, Karya, dan Jaminan Hidup di Hari Tua

Oleh Muhammad Subhan

TAK ada orang yang ingin sakit. Kalau bisa, sehat terus. Tapi tubuh tak bisa diajak kompromi. Kalau waktunya tiba, badan yang sakit harus mendapat tempat perawatan—entah di rumah, entah di rumah sakit.

Soal usia tak jadi masalah. Anak kecil juga tak sedikit yang sakit. Tidak harus menunggu tua untuk jatuh sakit. Ini hanya urusan waktu dan daya tahan tubuh. Selain itu, urusan pola serta gaya hidup turut memengaruhi kesehatan.

Namun, bagi sebagian sastrawan, sakit pada usia tua bukan sekadar persoalan kesehatan. Ada persoalan lain yang sering datang bersamaan: biaya pengobatan, kebutuhan hidup sehari-hari, dan ketidakpastian dari mana uang untuk membayar semuanya.

Ketika orang terkenal sakit—sastrawan salah satunya—biasanya hal itu mengundang gelombang reaksi publik, terutama dari orang-orang yang mengenalnya, baik sebagai kawan, pembaca, maupun relasi. Bantuan pun berdatangan. Ada yang menggalang donasi, mengirimkan sejumlah uang, membiayai pengobatan, atau sekadar menyebarkan kabar melalui media sosial.

Tapi kita perlu bertanya lebih jauh: apakah nasib seorang sastrawan memang harus bergantung pada kedermawanan publik ketika ia sakit?

Pertanyaan ini penting karena tidak semua sastrawan memiliki kondisi ekonomi yang sama. Sastrawan yang telah mapan—memiliki pekerjaan tetap, tabungan, aset, royalti yang cukup, atau perlindungan kesehatan—tentu mempunyai pilihan lebih banyak ketika menghadapi penyakit. Persoalannya adalah mereka yang sepanjang hidupnya menulis, menerbitkan buku, menghidupkan komunitas, mengajar, dan merawat kebudayaan, tapi memasuki usia senja tanpa jaminan ekonomi yang memadai.

Dalam situasi seperti itu, sakit menjadi persoalan yang jauh lebih berat.

Liputan mendalam Harian Kompas melalui laporan khusus bertajuk “Suara Tak Terdengar: Mengapa Nasib Sastrawan Harus Diperjuangkan?” (Kompas, 26 Mei 2025) memperlihatkan ironi tersebut: sastrawan kerap dipandang sebagai penjaga kebudayaan, tapi sebagian di antaranya justru menghadapi persoalan kesejahteraan ketika memasuki masa tua. Pendapatan dari buku dan honor menulis tidak selalu cukup untuk menjadi sandaran hidup. Sebagian bahkan harus menjalani pekerjaan lain agar tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Di sinilah kita perlu membedakan antara kemuliaan profesi dan kesejahteraan orang yang menjalani profesi itu.

Menulis sastra memang panggilan jiwa. Tapi panggilan jiwa tidak berarti kebutuhan hidup harus diabaikan, dan menghargai kesejahteraan sastrawan sama sekali tidak merendahkan nilai idealisme seni. Sastrawan tetaplah manusia. Ia membutuhkan makanan, tempat tinggal, biaya pendidikan anak, jaminan kesehatan, dan ketika tua, membutuhkan biaya perawatan sebagaimana orang lain.

Persoalan ini tidak bisa semata-mata dibebankan kepada pemerintah. Negara memang memiliki tanggung jawab membangun ekosistem kebudayaan yang sehat, tapi masyarakat sastra, penerbit, organisasi profesi, lembaga kebudayaan, dan dunia usaha juga memiliki ruang untuk mengambil bagian.

Solusinya harus dibangun sejak sastrawan masih produktif, bukan ketika tubuh mereka sudah terbaring lemah di rumah sakit.

Langkah mendasar yang harus diwujudkan adalah skema jaminan sosial dan perlindungan kesehatan yang mudah diakses oleh pekerja seni dan sastra. Pendataan sastrawan yang aktif berkarya dapat menjadi langkah awal. Ini bukan untuk menciptakan keistimewaan eksklusif (privilese), melainkan untuk memastikan bahwa pekerja kebudayaan, sebagaimana pekerja mandiri dan informal lainnya, tidak tercecer dari sistem perlindungan sosial nasional.

Sejalan dengan itu, ekosistem penerbitan juga harus dibenahi agar lebih adil. Kontrak penerbitan perlu dibuat transparan, perhitungan royalti harus dapat dipertanggungjawabkan, dan hak cipta wajib dihormati. Pembajakan buku, baik dalam bentuk fisik maupun digital, harus terus diperangi secara konsisten. Ketika karya seorang sastrawan menghasilkan keuntungan ekonomi, penciptanya semestinya memperoleh bagian yang layak dan proporsional.

Namun, pembenahan sistem tak akan maksimal tanpa penguatan kapasitas sastrawan itu sendiri dalam literasi hak cipta, tata kelola kontrak, royalti, dan manajemen keuangan. Tidak cukup bagi seorang pengarang hanya pandai menulis; mereka juga perlu memahami bagaimana karya-karyanya dikelola secara ekonomi. Di sinilah organisasi profesi dan komunitas sastra dapat mengambil peran strategis untuk memberikan pendampingan hukum serta edukasi ekonomi kreatif.

Selain itu, perlu dipikirkan pula pembentukan dana solidaritas atau dana abadi kebudayaan yang memiliki mekanisme jelas untuk membantu sastrawan dalam kondisi darurat, termasuk saat menghadapi penyakit berat dan lansia. Tata kelola dana ini harus transparan, memiliki kriteria penerima yang terang, serta terbuka untuk diaudit. Dengan demikian, penanganan kondisi darurat tidak lagi bergantung pada sekadar viral atau tidaknya kabar seorang sastrawan di media sosial.

Donasi publik tetap penting. Bahkan dalam banyak keadaan, donasi menjadi bentuk solidaritas kemanusiaan yang sangat berarti. Yang perlu dikritisi bukan aksi donasinya, melainkan keadaan ketika donasi justru dijadikan satu-satunya sistem penyelamatan.

Sebab, jangan sampai masyarakat baru ramai mengingat seorang sastrawan setelah ia jatuh sakit. Jangan sampai karya-karyanya dipuji ketika tubuhnya sudah lemah, sementara sepanjang masa produktifnya ia dibiarkan berjuang sendirian.

Penghormatan kepada sastrawan seharusnya tidak berhenti pada undangan membaca puisi, pemberian penghargaan, atau seremoni kebudayaan semata. Penghormatan yang nyata berarti menciptakan ekosistem yang memungkinkan mereka hidup layak dari kerja kebudayaannya.

Kita tidak sedang meminta semua sastrawan menjadi kaya raya. Itu bukan ukuran keberhasilan sastra. Yang dibutuhkan adalah kehidupan yang layak, perlindungan ketika menghadapi risiko hidup, dan martabat ketika memasuki usia senja.

Sastrawan boleh hidup sederhana. Tapi jangan sampai kesederhanaan itu berubah menjadi keterlantaran.

Dan jangan menunggu seorang sastrawan sakit untuk kemudian mengingat bahwa selama puluhan tahun ia telah menjaga ingatan, bahasa, imajinasi, dan kebudayaan bangsa.

Kita mafhum bahwa kebudayaan yang besar tidak hanya diukur dari seberapa banyak karya adiluhung yang dilahirkan, tapi juga dari seberapa manusiawi bangsa itu merawat para kreatornya. Membiarkan para penjaga ketahanan ingatan bangsa ini merana pada masa tua adalah sebuah kebangkrutan moral dalam berbudaya. Kita tidak bisa terus-menerus memetik buah pikiran mereka tanpa peduli pada akar yang memberi kehidupan pada buah tersebut.

Saatnya kita beranjak dari romantisme semu yang mengagungkan “seniman menderita” sebagai syarat keindahan karya. Kesejahteraan dan idealisme tidak boleh dipertentangkan; keduanya harus berjalan beriringan agar ekosistem kebudayaan kita tetap berkelanjutan. Keberlanjutan itu hanya bisa terwujud jika ada sistem dan komitmen nyata yang melindungi para pekerja budaya sepanjang hayat mereka.

Memperjuangkan jaminan hidup yang bermartabat bagi sastrawan bukanlah tindakan belas kasihan, sebaliknya sebuah bentuk investasi kebudayaan. Ketika para sastrawan dapat terus berkarya tanpa terhantui ketakutan akan keterlantaran di hari tua, di situlah peradaban sebuah bangsa sedang menegakkan martabatnya sendiri di hadapan masa depan. (MUHAMMAD SUBHAN)

Sumber : https://www.facebook.com/share/1C3auDtyTs/

Selasa, 04 Agustus 2026

Cut, cut, cut!

Cut, cut, cut!
Karya Luh Arik Sariadi

Sehabis banjir besar meluap di pusat kota, bendera, baliho, dan selebaran berserakan. Sisa-sisa warna masih tampak walaupun simbol-simbol partai politik itu terombang-ambing oleh air bah. Beberapa desa disapu angin besar dengan curah hujan yang sangat tinggi sehingga banyak warga golput dalam pemilihan presiden. Puing-puing kayu ringsek di pasar kota. Orang-orang masih enggan keluar rumah karena sibuk membersihkan rumah yang direndam air sejak musim kampanye.  
Gede Merta masih sangat sedih, bahkan tenggelam bersama baliho-baliho yang berisi fotonya. Ia pun belum berani keluar rumah. Teramat sedih.

*** 
Orang-orang masih bertepuk tangan ketika ia menundukkan kepala di atas panggung. Kamera berkedip seperti hujan cahaya. Ribuan pendukung meneriakkan namanya, mengangkat spanduk, dan menganggap pidato itu sebagai keberanian seorang calon presiden yang berpihak kepada rakyat kecil.
"Adakah Gede Merta dihatimu?" kata seorang juru kampanye di atas panggung. Hujan rintik-rintik selama beberapa hari telah membuat taman kota tergenang semata kaki.
"Ada, ada, ada!" begitu para simpatisan memberi dukungan kepada Gede Merta yang telah membagikan visi dan misinya sebagai presiden. 
Sebagai tokoh dari kota kecil, mendapat simpatisan yang begitu bersemangat membuatnya lebih bersemangat lagi.
Namun, di balik senyum yang dipaksakan, ia justru melihat satu wajah. Wajah Gede Raga.

Ia tidak mengenang Gede Raga sebagai korban. Tidak pula sebagai pencuri ayam. Ia mengingatnya sebagai orang yang telah menyeretnya ke jurang penyesalan yang tak mungkin dipanjat kembali. Ini hari terakhirnya kampanye, kemenangan selalu menjadi rahasia yang belum bisa diprediksi.
"Seandainya aku tidak melakukan panggilan video dan mempunlikasikannya," gumamnya.
Tepuk tangan semakin keras ketika juru kampanye memetikkan yel yang lebih bersemangat di tengah hujan yang semakin deras.
Penyesalannya semakin membuatnya ketakutan. Dua hari lagi, pemilu akan berlangsung. Keraguannya untuk menang semakin tebal. Ia justru merasa tepuk tangan orang-orang yang diguyur hujan turut menghanyutkan suara dukungan untuknya. 

***
Tiga bulan sebelumnya, seluruh negeri diguncang sebuah video tidak berprikemanusiaan. Seorang pria bernama Gede Raga dituduh mencuri ayam milik warga desa. Ia tertangkap. Massa menghakimi tanpa memberi kesempatan menjelaskan. Dalam hitungan menit, amarah berubah menjadi pengeroyokan. Ketika polisi datang, tubuh Gede Raga telah tergeletak tanpa nyawa.

Media menyiarkannya tanpa henti. Tagar keadilan memenuhi media sosial. Tagar pencurian ikut bersaing menyita perhatian publik. Tagar-tagar lain pun semakin viral. 

Semua kandidat politik berlomba mengomentari tragedi itu. Calon presiden bernama Gede Merta melihat peluang yang tak boleh dilewatkan. Tim medianya menyebut tragedi itu sebagai momentum.
"Rakyat sedang marah. Kita harus hadir lebih dulu daripada lawan politik."

Gede Merta mengangguk. Ia segera melakukan panggilan video dengan istri pencuri ayam. Gede Merta mengutus orang berangkat ke rumah duka dengan membawa karangan bunga bertuliskan, "Dari Gede Merta, pembela rakyat".

Di depan kamera panggilan, ia tunjukkan simpati bahkan ketika istri dan anak pencuri menangis, ia ikut menangis dan  berjanji memperjuangkan keadilan. Melalui sosial medianya sendiri dan sosial media para pengikutnya, bahkan para influencer bayaran, video percakapannya dengan istri pencuri ayam diviralkan.

Percakapan dalam panggilan video itu viral. Rating elektabilitasnya naik. Komentator menyebutnya pemimpin yang berempati.
Tak seorang pun tahu bahwa beberapa minggu sebelumnya Gede Merta pernah dipermalukan oleh orang yang sama ketika melakukan lawatan ke sebuah desa kecil untuk bagi-bagi uang.

***
Saat melakukan safari politik, Gede Merta memilih berjalan kaki agar terlihat dekat dengan rakyat. Di pinggir jalan ia bertemu seorang pria lusuh yang mengaku peternakannya baru saja bangkrut.
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Gede Raga. Matanya tampak sayu. Pakaiannya compang-camping. Saat itu, ia meminta semua orang mempersiapkan alat syuting. Kamera yang bagus dikeluarkan. Reka adegang coba dijelaskan dan diperagakan oleh sutradara yang ditunjuk sebagai ketua tim kreatif. 
"Ayam saya tinggal satu, Pak. Kalau ayam ini mati, habislah keluarga saya."
"Cut, cut, cut! Coba tunjukkan wajah memelas lebih dalam!" kata sutradara.

Setalah adegan diulang-ulang, Gede Merta semakin iba bukan karena ia menjadi konten kreator, tetapi sebagai seorang manusia biasa yang latah ikut-ikutan bersedih.

Tanpa berpikir panjang ia menyerahkan sejumlah uang tunai. Gede Raga berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Video itu dipublikasi setelah diedit oleh timnya. Video itu langsung mendapat perhatian dan kembali viral. Banyak orang semakin mengenal sosok Gede Merta sebagai orang yang dermawan.

Gede Merta ingin mengucapkan terima kasih kepada orang itu, tetapi ia sulit dihubungi bahkan alamat yang diberikan pun palsu. Pria itu lenyap seperti dilumat oleh kawah Gunung Agung. Tidak ada jejak. Saking iba, Gede Mert mengerahkan banyak untuk membantu pria itu.
Informan memberi tahu bahwa Gede Raga bukan peternak miskin. Ia terkenal sebagai pencuri ayam keliling yang lihai memainkan belas kasihan orang. Pria itu konon katanya memiliki pelet.
Berita itu sengaja disembunyikan tim sukses agar tidak merusak citra Gede Merta.
"Anggap saja sedekah," kata salah seorang staf.

Gede Merta menahan malu dan memecat tim kreatif yang ikut dalam produksi kontennya. Bahkan, Gede Merta meminta antek-anteknya, melenyapkan timnya dari muka bumi. Ia merasa telah dibohongi. Video itu dibiarkan mendapat jam tayang untuk menghasilkan uang sebagai kontwn kreator. Bahkan ia telah lupa dengan konten-konten yang dibuatnya. 
***
Beberapa tahun kemudian, video pengeroyokan Gede Raga meledak. Gede Merta marah. Bukan karena pernah ditipu melainkan karena tidak seorang pun pantas kehilangan nyawa akibat tuduhan mencuri seekor ayam.

Meski demikian, sebagian anggota tim sukses memandang peristiwa itu dari sudut yang berbeda.
"Pak, ini kesempatan emas."
"Maksudmu?"
"Bela keluarganya. Publik akan melihat Bapak sebagai pelindung wong cilik."

Gede Merta terdiam. Ia tahu saran itu dingin tetapi ia mengiyakan. Ia mengutus orng mendatangi rumah duka. Ia menangis di depan kamera. Ia menyebut Gede Raga sebagai simbol ketidakadilan. Setiap kalimatnya disambut jutaan tayangan yang dibagikan oleh para simpatisan. Elektabilitasnya naik.

Gede Merta tenggelam dalam kebahagiaan dan yakin akan memenangkan hati rakyat. 

Beberapa hari menjelang pencoblosan, penyelidikan polisi mengungkap fakta yang lebih rumit. Gede Raga memang beberapa kali terlibat pencurian ayam di sejumlah desa, bahkan beberapa korban mengenal wajahnya. 
Namun, temuan itu tidak mengubah satu hal penting. Tak seorang pun berhak menghakimi hingga menghilangkan nyawa seseorang. Negara memiliki hukum.

Saat membaca laporan lengkap penyelidikan itulah Gede Raka merasa sesak. Ia sadar dirinya telah membela keluarga korban dengan niat yang bercampur taktik dan strategi.
Massa mengkritiknya. Suara terbelah saat kampanye terakhirnya. 

Ada empati tetapi ada pula hitung-hitungan politik. Ia memang ingin keadilan ditegakkan. Namun, ia juga membiarkan tragedi itu menjadi panggung. Kesedihan orang lain telah berubah menjadi bahan kampanye.
Sejak hari itu setiap kali melihat foto Gede Raga, ia tidak lagi memikirkan uang yang pernah dicuri darinya. Ia memikirkan bagaimana ambisi politik dapat membuat seseorang lupa memeriksa isi hatinya sendiri.

---

Kini, menjelang hari pemungutan suara, sorak-sorai terus menggema. Pendukung masih menganggap pidatonya luar biasa. Media masih membahas kenaikan popularitasnya. Namun,  Gede Merta tahu ada satu suara yang tak pernah bisa dikalahkan oleh tepuk tangan, yaitu suara hati.
Ia menatap ribuan wajah di hadapannya.
Lalu berkata pelan, nyaris tak terdengar mikrofon.
"Jangan pernah menjadikan penderitaan manusia sebagai tangga menuju kekuasaan. Sebab ketika kita berhasil sampai di puncak, bisa jadi yang menunggu hanyalah penyesalan."
***
Di luar rumah, angin membawa debu dari jalan desa yang pernah dilalui Gede Merta. Ia memutar kembali 2 konten yang dibuatnya tentang Gede Raga. Suara ricik air di sebelah rumah mengalir di parit-parit yang tersumbat. Darahnya turut tersumbat. Otaknya tidak mampu menerima kekalahan itu.  
"Cut, cut, cut!" kata seorang Sutradara.
Satu-satunya jalan untuk bertahan hidup setelah gagal terpilih menjadi presiden adalah menjadi konten kreator. Itu jauh lebih mudah dilakukan oleh Gede Merta.


Jumat, 08 Mei 2026

Tepi Kota Yang Hilang


CERPEN DIGITAL
Tepi Kota Yang Hilang
Oleh Winne Aprilia Putri


Pak Amir hanya diam. Ia tahu tak ada gunanya berdebat dengan takdir yang sudah disusun di meja-meja rapat jauh di gedung pemerintahan sana.

Di pinggiran kota yang kian sesak, berdiri deretan rumah kontrakan berdinding tripleks dengan atap seng berkarat. Di salah satu sudut gang sempit itu, Pak Amir memarkir becaknya setelah seharian mengayuh di bawah terik matahari. Peluhnya menetes di tanah berdebu, bercampur dengan genangan air got yang tak pernah kering.

Dari dalam rumah, terdengar denting panci beradu, Bu Sari tengah bersiap membuat nasi uduk untuk dagangan esok. Rani duduk bersila di lantai, menyalin pelajaran dari buku pinjaman sekolah. Cahaya bohlam murahan menggantung di tengah ruangan, temaram tapi cukup untuk membuat rumah mereka terasa hidup.

”Pak,” katanya tiba-tiba, ”Kalau Rani udah gede, Rani mau jadi guru. Biar anak-anak kampung bisa pintar semua.” Wajahnya tampak ceria saat mengucapkannya.

Pak Amir terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. ”Bagus itu, Nak. Tapi kalau mau jadi guru, kamu harus rajin belajar, enggak gampang nyerah, dan jangan lupa berdoa. Orang yang sabar pasti dikasih jalan.” Hatinya nyeri oleh harapan yang terasa terlalu tinggi untuk dijangkau.

Pak Amir melangkah ke teras dan duduk di bangku bambu yang mulai rapuh. Angin sore menyapa wajahnya yang lelah. Dalam sepekan terakhir, kabar tentang proyek pembangunan apartemen dan jalan tol semakin sering bergema di telinga warga. Di ujung gang, spanduk besar bertuliskan ”Pembangunan untuk Kemajuan Kota” berkibar, seolah sedang menertawakan rumah reyot di sekitarnya.

Pandangan Pak Amir tertuju pada becaknya yang terparkir di depan rumah. Catnya yang memudar dan roda yang berkarat seakan menyimpan jejak lelah yang tak terhitung. Dalam hati ia sadar, perjalanan mencari nafkah di gang ini perlahan mendekati ujung jalan. ”Kemajuan,” pikirnya, terdengar manis, tapi sering kali ada kehidupan yang harus dikorbankan.

Keesokan paginya, suara riuh terdengar dari ujung gang. Beberapa orang berbaju rapi datang membawa map tebal dan kamera. Di belakang mereka, tampak dua petugas kelurahan dan seorang pria berhelm putih dengan logo perusahaan konstruksi di rompinya.

”Mohon perhatian, Bapak-Ibu,” salah satu dari mereka berseru sambil mengangkat pengeras suara. ”Wilayah ini akan segera direlokasi untuk proyek pembangunan jalan tol. Kami minta kerja sama semua warga untuk segera mengosongkan area dalam dua minggu ke depan.”

Warga yang sedang berjualan, mencuci, atau sekadar duduk di depan rumah langsung berhenti beraktivitas. Suara anak-anak yang tadinya bermain petak umpet pun mendadak hilang. Hanya bisik-bisik panik yang tersisa di udara.

Bu Sari keluar dari rumah dengan tangan masih memegang sendok nasi. ”Relokasi? Maksudnya digusur, Pak?” tanyanya dengan suara bergetar.

Petugas hanya tersenyum tipis. ”Bukan digusur, Bu. Dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Nanti akan ada ganti rugi sesuai data warga.”

Kami minta kerja sama semua warga untuk segera mengosongkan area dalam dua minggu ke depan.

Namun, tak ada satu pun yang benar-benar mengerti maksud ”tempat yang lebih layak” itu. Mereka hanya punya sepetak rumah kontrakan, itu pun hasil menabung bertahun-tahun.

Pak Amir berdiri di samping becaknya, mendengarkan tanpa bicara. Dalam hati ia tahu, kata ganti rugi sering kali tak lebih dari janji yang hilang di antara tumpukan berkas. Ia menatap Rani yang berdiri di ambang pintu, menatap para tamu asing itu dengan mata polos.

Malamnya, suasana kampung berubah. Warga berkumpul di depan warung Bu Sari, membicarakan nasib mereka. Ada yang marah, ada yang pasrah, ada pula yang berusaha menenangkan diri dengan doa.

”Katanya, uang ganti ruginya bakal cair bulan depan,” ucap seorang bapak sambil menyalakan rokok.

”Tapi rumah mau diratakan dua minggu lagi,” sahut yang lain. ”Kita mau tinggal di mana sementara?”

Pak Amir hanya diam. Ia tahu tak ada gunanya berdebat dengan takdir yang sudah disusun di meja-meja rapat jauh di gedung pemerintahan sana.

Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelip—megah dan terang. Tapi di gang kecil itu, cahaya terasa redup, seolah ikut muram menatap masa depan yang belum pasti.

Rasa tegang kian menyelimuti pak Amir dan warga. Raksasa besi mulai datang beruntun mengangkut alat berat. Tanah yang dulunya menjadi tempat bermain Rani dan teman-temannya kini dibongkar tanpa belas kasihan. Di beberapa rumah pun telah bertuliskan ”Rumah siap bongkar” seperti cap yang terpatri muncul pada dinding dingin pucat yang seakan merasakan kesedihan para warga. Sementara itu, Pak Amir hanya bisa melihat tanda pada dinding dengan dada sesak, dan Bu Sari hanya bisa duduk termenung di pojokan dapur sambil melihat panci dagangannya yang belum sempat ia gunakan. ”Kalau rumah ini dibongkar, kita tinggal di mana, Pak?” tanyanya lirih.

Pak Amir hanya diam, bibirnya kelu tak bisa menjawab, sorot matanya hanya terisi kekosongan. Di luar, warga mulai berkumpul. Seorang ibu menangis histeris karena ganti rugi belum juga ada kabar baik, lantas seorang pemuda berteriak menantang petugas. ”Katanya relokasi layak, mana buktinya?” Tapi teriakan yang menggema bak raungan serigala itu tenggelam dalam raungan mesin.

Keesokan paginya, monster baja itu kembali, mendekat perlahan. Warga panik, berlarian menyelamatkan barang sebisa mereka. Sedangkan Rani hanya bisa memeluk tas sekolahnya erat. ”Pak, buku Rani masih di dalam…” suaranya gemetar.

Dengan tekad yang besar, Pak Amir melangkah maju menghadang penjahat besi itu. ”Berhenti! Jangan bongkar rumah kami!” teriaknya lantang. Para pekerja tak menghiraukan raungan Pak Amir seraya bergerak tanpa ragu menghancurkan rumah warga hingga menjadi kepingan yang tak bersisa, melihat itu warga terdiam membisu. Angin hanya bisa berperan membawa bau debu dan seng yang telah terbakar. Dalam hatinya, Pak Amir tahu, mungkin rumahnya akan hilang, tapi tidak dengan harapan yang telah ia tanam di mata anaknya.

Mentari sore tergantung lesu di atas langit, seolah ikut menyaksikan luka yang masih menganga lebar. Jalan berdebu menjadi saksi bisu keluarga kecil itu dengan keadaan termangu. Kini bukan lagi bangunan dengan atap usang yang sudah berkarat, melainkan kain mota berwarna biru yang mulai sobek di beberapa sisi. Suara kendaraan menjadi pengantar tidur yang getir, tiang-tiang beton menjulang tinggi menandai awal berdirinya bangunan megah di atas tanah yang dulunya sebagai tempat singgah untuk menghilangkan lejar.

”Pak, memangnya orang seperti kita tidak boleh punya tempat tinggal, ya? Kenapa rumah kita diganti dengan bangunan tinggi itu?”

”Rani anakku, terkadang keadilan tertidur di sisi yang salah. Tapi ingat pesan bapak selama kita tidak menyerah, kita masih punya tempat untuk rehat meski bukan rumah dengan bangunan yang kokoh, melainkan rumah dari tekad keberanian,” ungkap bapak.

Kalau rumah ini dibongkar, kita tinggal di mana, Pak?”

Matanya memandang jauh ke depan seakan masih terpancar setitik cahaya harapan. Kata-kata penenang terus terlontar dari mulutnya, jika bapak senantiasa memberikan ketenangan, lantas siapa yang akan memberikan ketenangan kepada sang kepala keluarga? Entahlah. Mungkin hanya doa yang ia bisikkan kepada Sang Pencipta di sepertiga malam, di antara desir angin dan nyala lampu yang temaram.

Hari-hari berlalu perlahan. Pak Amir kembali menarik becaknya di kawasan kota yang kini semakin ramai dan asing. Namun, roda becak itu tak lagi seramai dulu, penumpang makin jarang, kalah oleh ojek daring yang berseliweran tanpa henti. Meski begitu, setiap pagi ia tetap berangkat dengan semangat yang sama, berharap masih ada rezeki yang tersisa di antara deru kendaraan dan gedung menjulang.

Rani tetap bersekolah, menempuh jarak yang lebih jauh dari tempat tinggal baru mereka di pinggiran kota. Setiap kali ia pulang membawa nilai ulangan yang bagus, wajah Pak Amir kembali bercahaya. Di tengah kesulitan, anak kecil itu menjadi pelita kecil yang menuntun hatinya agar tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, Pak Amir berhenti di tepi jalan tol yang baru selesai dibangun. Di seberang sana, terlihat mobil-mobil melintas cepat simbol kemajuan yang dulu menggusur tempat tinggalnya. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil.

”Mungkin dunia ini memang terus berlari, Nak,” katanya kepada Rani yang duduk di samping becaknya. ”Tapi kita tidak boleh berhenti berharap. Karena kalau kita berhenti, kita benar-benar akan tertinggal.”

Rani menatap langit jingga yang mulai berpendar lembut. ”Rani enggak akan berhenti, Pak. Rani mau sekolah tinggi, biar nanti bisa bantu orang-orang kayak kita.”

Itu harapan yang paling indah yang pernah Bapak dengar, Nak.

Pak Amir mengangguk pelan. ”Itu harapan yang paling indah yang pernah Bapak dengar, Nak.”

Angin sore bertiup membawa bau aspal baru bercampur debu. Di balik keramaian kota yang terus tumbuh, masih ada suara kecil yang berjuang untuk tetap hidup dengan jujur dan bermartabat.

Malam itu, di rumah sederhana yang dibangun dari papan bekas dan harapan yang tak lekang, Pak Amir menatap anaknya yang sedang belajar di bawah cahaya lampu redup. Ia sadar, mungkin ia tak bisa menghadiahkan kemewahan, tapi ia telah mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga, keteguhan dan keyakinan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menyerah.

Karena meski mereka tergusur dari tempat tinggal lama, mereka tidak pernah tergusur dari harapan dan martabat sebagai manusia.

Dan di sanalah, di tepi kota yang dulu hilang, lahir harapan baru, harapan dari tangan-tangan sederhana yang tetap percaya bahwa keadilan dan kasih sayang suatu hari akan menemukan jalannya sendiri.


Sumber: Kompas. 14 Feb 2026 07:00 WIB · Cerpen

Minggu, 03 Mei 2026

Ulasan Didikan Keras (Chairil Anwar)

Didikan keras (Chairil Anwar)

Ketika aku memasuki kelasmu, aku berfikir Tantangan apa yang akan kau berikan padaku Kamu memberiku motivasi untuk melewatinya Dan menolak kelemahan yang meragukan diri

Kamu sungguh telah membuka pikiranku Dengan kebijakan, keras dan ketegasan Kamu membantuku untuk melihat atas Menemukan tujuan yang harus kucapai

Kamu mengeluarkanku dari kegalauan Terima kasihku atas jerih payahmu Apa yang kau ajarkan akan menumbuhkanku Perhatianmu sangat menyentuh hati dan pikiranku

Aku akan selalu mengingat jeweranmu Aku berharap semua guru sepertimu.

Ulasan puisi:
Puisi "Didikan Keras" karya Chairil Anwar adalah wujud apresiasi mendalam terhadap sosok guru yang tegas, disiplin, dan keras dalam mendidik. Puisi ini menggambarkan motivasi yang diberikan guru untuk mengatasi keraguan diri, membuka pikiran, dan membimbing murid menemukan tujuan hidup melalui kebijakan keras yang menyentuh hati.

Ulasan dan Makna Puisi "Didikan Keras":Tema dan Pesan: Puisi ini bertemakan pendidikan dan penghormatan, menekankan bahwa didikan yang disiplin (bahkan keras) dari guru bertujuan untuk membentuk karakter dan kesuksesan masa depan murid.

Sosok Guru: Guru digambarkan sebagai sosok yang tidak hanya mengajar, tetapi juga memotivasi, membuka pikiran, dan membebaskan siswa dari kegalauan, meskipun melalui "jeweran" atau ketegasan yang didasari kasih sayang.

Dampak Pendidikan: Ajaran guru dalam puisi ini menumbuhkan pengertian dan kesadaran, yang membuat murid menyadari jerih payah dan perhatian guru.

Gaya Bahasa: Khas Chairil Anwar yang lugas, tegas, dan emosional, namun dalam konteks ini lebih bernuansa haru dan terima kasih.

Selasa, 17 Maret 2026

kidung dewa yadnya & Mantra pecaruan

Kumpulan Kidung Dewa Yadnya

Terdapat 5 kidung Dewa Yadnya yang sering ditembangkan, yaitu Kawitan Wargasari, Pupuh Gambuh, Mendak Bhatara (wargasari), Bramara Ngisep Sari, dan Turun Tirta. Berikut ini adalah pemaparan lengkap kelima kidung tersebut.

1. Kawitan Warga Sari

Purwakaning angripta rum
ning wana ukir
kahadang labuh kartika
panedenging sari
angayo tangguli ketur
angringring jangga mure

Sukanya arja winangun
winarna sari
rumrumning puspa priyaka
ingoling tangi
sampuning riris sumaru
menggwing srengganing rejeng

2. Pupuh Gambuh

Ngaturang kukus arum
Pangiring pujabakti ka luhur
Maduluran canang gantal
Canang sari
Saha kidung matembang gambuh
Katur ring hyang Widi kawot

Purwaning puja katur
piranti asep menyan mawelun
Panyeregeg manggala yadnya
Sang sulinggih
Kukus cihna ripu dudus
Budi hening jati katon

Madasar budhi sadu
Saking Ias caryaning kayun
Manunas Panugrahan ida
Dewa Dewi
Miwah Pitara leluhur
Mugi nemu kerahayuan

Atur kesama pukulun
Antuk presangga mangayap iratu
Yadin tuna presarana
Yadnya bakti
Maka renaning penawur
Dening bhatara pangayom

Ampura ratu Hyang sinuhun
Manawi tuna bakti ingsun
ledang ugi ngampurayang
Asung asih
kreta nugraha ratu manuntun
Tityang sadia nyanggra manyuwun

3. Mendak Bhatara (wargasari)

Asep pejati wus katur,
Mendak Ida Bhatarane,
Paneteg Ian canang arum,
Canang gantal canang sari,
Parekan pada menangkil,
Pedek sami nunas ica,
Ngadpada manyungsung,
Mengaturang palinggih

Tengeran Bhatara rawuh,
Ketug lindu manggalana,
Kilat tatit kuwug-kuwug,
Dumilah ngadeg ring langit,
Raris maduluran angin,
Mangalinus maring jagat
Rempak taru rubuh,
Katibanan angin.

Bhatara makire tedun,
Anglayang diambarane,
Busanane sarwa murub,
Tur anunggang wyalapati,
Warnane angresing hati,
Risampun prapti ring pura,
Ancangan tumurun,
Natasang pelinggih.

Dibale manike luhung,
Mapanyengker ring tlagane,
Kadagingin tanjung tutur,
Tunjung bang tunjung putih,
Ring madyaning bale alit,
Isa Bhatara mabawos,
Nganggit sekar jepun,
Sekarang memargi.

4. Bramara Ngisep Sari

Om om sembah ikatunan,
dumadak jua kaaksi,
mungguing pangubaktin tityang,
nista solah lawan wuwus,
muwah banget hina budi.

Kewanten sredaning manah,
miwah katlebaning hati,
kalawan eling tan pegat,
kanggen manyanggra manyuwun,
pican iratu sang luwih.

Iratu langkung pawikan,
ring manah sarwa dumadi,
ne jati kalawan boya,
ne corah lan bakti mulus,
ne patut kalawan rusit.

Apan paduka bhatara,
ne mula nodyanin gumi,
weruh ring sakandan jagat,
saluwir ne wus kalangkung,
mangkin miwah ne kawuri.

Sakala lawan niskala,
bhatara ngraganin sami,
wesnawa suksma bhatara,
brahma niskala iratu,
pepek sami karaganin.

5. Turun Tirta

Turun tirta saking luhur
Ne nyiratang pemangkune
Mangelencok muncrat mumbul
Mapan tirta merta jati
Paican betara sami
Panglukatan dasa mala
Sami padalebur
malane ring bumi

Maketis ping tiga sampun
pabahan siwa dwarane
wangsuhane raris inum
ping tiga lantas mesugi
ring waktra magentos genti
toya amertha widhine
Sami sampun puput
Mengalangin hati

Turun tirta saking luhur
Tirta panca dewatane
Wisnu tirta kamandalu
Hyang iswara sanjiwani
Mahadewa kundalini
Hyang brahma tirta pawitra
Hyang siwa pamuput
amerta kinardi




Dikutip dari 

Mantra pecaruan ayam brumbun bertujuan menyucikan tempat dan menyeimbangkan energi negatif (Bhuta Kala), terutama di tengah area (madya) menggunakan ayam berbulu campuran/brumbun. Mantra ini memanggil Sang Bhuta Tiga Sakti dan Dewa Siwa sebagai saksi, memohon agar kekuatan jahat menjadi harmoni.
Mantra Caru Ayam Brumbun (Ring Tengah):
"Om indah ta kita sang bhuta saksi, ring madya desanira. Kliwon panca waranya Dewa Siwadewatanya, iki tadah sajinira penek manca warna maiwak ayam brumbun, ingolah winangun urip, katekeng seruntutannya, ajak sawadwanira ulung siki, minawi wenten kirang luput, den agung sinampura sang adruwe caru."
Artinya:
"Ya Tuhan dalam manifestasi sebagai Sang Bhuta Saksi, yang berada di tengah-tengah. Panca waranya Kliwon, Dewanya adalah Siwa, inilah sajianmu penek manca warna (lima warna) disertai daging ayam brumbun yang diolah hidup, beserta seluruh pengikutnya berjumlah 888. Jika ada kekurangan, mohon dimaafkan oleh yang memiliki caru."
Tambahan Mantra/Pemujaan:
  • Membakar dupa: "Om Ang Brahma-amretha dhipa ya namah, Om Ung Wisnu-amretha dhipa ya namah, Om Mang Iswara-amretha dhipa ya namah."
  • Membasuh tangan: "Om Hrang Ung Phat Astra Ya Namah Swaha."
  • Penutup: "Om Siddirasastu swaha. Om Ing namah swaha."
Pecaruan ini biasanya dilaksanakan pada hari raya seperti Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi) atau upacara di tingkat rumah tangga (karang) untuk menjaga harmoni

Minggu, 08 Maret 2026

pengertian negosiasi

1. Menurut Roger Fisher dan William Ury
Negosiasi adalah proses komunikasi dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan berbeda untuk mencapai kesepakatan bersama melalui perundingan.

2. Menurut Stephen P. Robbins
Negosiasi adalah proses di mana dua pihak atau lebih bertukar barang atau jasa dan berusaha menyepakati nilai tukar atas barang atau jasa tersebut.

3. Menurut Roy J. Lewicki
Negosiasi merupakan proses komunikasi antara dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan berbeda dan bertujuan mencapai kesepakatan.

4. Menurut Oliver Serrat
Negosiasi adalah proses diskusi antara dua pihak atau lebih untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima bersama.

5. Menurut Gerald I. Nierenberg
Negosiasi adalah proses di mana dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan yang sama maupun berbeda bertemu untuk mencapai kesepakatan.

6. Menurut Charles W. L. Hill
Negosiasi adalah proses di mana dua pihak atau lebih mencoba menyelesaikan perbedaan kepentingan melalui diskusi untuk memperoleh kesepakatan.

7. Menurut Ricky W. Griffin
Negosiasi adalah proses yang digunakan oleh dua pihak atau lebih untuk mencapai kesepakatan ketika masing-masing memiliki tujuan yang berbeda.

8. Menurut Kenneth E. Boulding
Negosiasi adalah proses pertukaran ide atau kepentingan antara pihak-pihak yang berkonflik untuk mencapai penyelesaian.

9. Menurut Fred C. Lunenburg
Negosiasi adalah proses interaksi antara dua pihak atau lebih yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan bersama dalam suatu masalah.

10. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Negosiasi adalah proses tawar-menawar melalui perundingan untuk mencapai kesepakatan antara satu pihak dengan pihak lain.

UNGGULAN

Hikayat

Dengarkan simakan ini  https://youtu.be/NpDnf1Vt7FA?si=6QkHkV871T4Shbwc  Pertanyaan “Mengapa” Mengapa Sa-Ijaan dan Ikan Todak dapat menjadi ...