JARAH
Oleh Luh Arik Sariadi
Sami kajarah
Olih manah madasar corah Nénten malih satinut tekéning tutur lan titah Manados i manusa campah
Tan wénten sané satya masawitra
Sané adeg malinggih
Napi malih kayun ngupapira Ciri jagaté sampun usak
Sami katektek, sami kaebah
Jarah
Sami kajarah
Nénten malih ipun bungah
Wantah mangundang angkaraning murka Matilar suka, ngamedalang duka
Tan wénten sane satya sayaga
Napi malih wantah waspada Jagaté dumun degdeg landuh Sane mangkin boya ja gentuh Nunas mangda sami lantang tuuh
JARAH
(Terjemahan Bahasa Indonesia)
Jarah
Semua terjarah,
Oleh pikiran yang dilandasi amarah.
Tak lagi patuh pada tutur dan aturan,
Membuat manusia menjadi kacau.
Tak ada lagi yang setia bersahabat,
Yang tetap tegak berdiri,
Apalagi yang mau peduli.
Tanda dunia telah rusak,
Semua tercabik, semua tercerai-berai.
Jarah
Semua terjarah,
Tak ada lagi kebahagiaan,
Hanya memanggil angkara murka.
Meninggalkan suka, menghadirkan duka.
Tak ada yang setia berjaga,
Apalagi sekadar waspada.
Dunia dulu kokoh dan tenteram,
Kini tak lagi benar-benar teguh.
Semoga kita semua tetap kuat dan panjang umur.
Berikut analisis unsur-unsur puisi “JARAH” (terjemahan Bahasa Indonesia) karya Luh Arik Sariadi.
ANALISIS UNSUR-UNSUR PUISI
JARAH
I. Unsur Fisik Puisi
1. Diksi (Pilihan Kata)
Puisi ini menggunakan diksi yang lugas namun kuat secara makna. Kata-kata seperti:
-
terjarah
-
amarah
-
angkara murka
-
tercabik
-
tercerai-berai
-
duka
-
rusak
menunjukkan suasana kehancuran moral dan sosial.
Kata “jarah” menjadi kata kunci (simbol utama) yang bermakna perampasan atau kerusakan yang terjadi secara menyeluruh, baik secara fisik maupun batin.
2. Imaji (Citraan)
Puisi ini lebih dominan menggunakan imaji perasaan (psikis):
-
“Membuat manusia menjadi kacau”
-
“Tak ada lagi kebahagiaan”
-
“Meninggalkan suka, menghadirkan duka”
Ada pula imaji visual yang menggambarkan kerusakan:
-
“Semua tercabik, semua tercerai-berai”
-
“Dunia dulu kokoh dan tenteram, kini tak lagi benar-benar teguh”
Imaji tersebut membantu pembaca membayangkan kondisi dunia yang porak-poranda secara moral.
3. Majas (Gaya Bahasa)
Beberapa majas yang digunakan:
-
Repetisi (Pengulangan)
-
“Jarah / Semua terjarah”
Pengulangan ini menegaskan bahwa kerusakan terjadi secara menyeluruh dan berulang.
-
-
Metafora
-
“Dunia telah rusak” → bukan hanya kerusakan fisik, tetapi kerusakan moral.
-
“Semua tercabik” → menggambarkan kehancuran nilai dan hubungan sosial.
-
-
Antitesis (Pertentangan)
-
“Meninggalkan suka, menghadirkan duka”
-
“Dulu kokoh dan tenteram / kini tak lagi teguh”
-
Pertentangan ini memperkuat kesan perubahan dari keadaan baik menjadi buruk.
4. Rima dan Tipografi
-
Termasuk puisi bebas, tidak terikat pola rima tertentu.
-
Struktur bait pendek-pendek menciptakan tekanan emosional.
-
Penempatan kata “Jarah” sebagai pembuka dua bagian memberikan efek dramatis dan penegasan tema.
II. Unsur Batin Puisi
1. Tema
Tema utama puisi ini adalah:
-
Kerusakan moral manusia
-
Hilangnya nilai kesetiaan dan kepedulian
-
Kemerosotan kondisi dunia akibat amarah dan angkara murka
2. Rasa (Perasaan Penyair)
Perasaan yang muncul dalam puisi ini:
-
Keprihatinan
-
Kekecewaan
-
Kesedihan
-
Kegelisahan terhadap kondisi dunia
Namun pada bagian akhir muncul secercah harapan.
3. Nada dan Suasana
-
Nada: Tegas dan reflektif, seperti peringatan moral.
-
Suasana: Suram dan prihatin, tetapi ditutup dengan harapan.
4. Amanat (Pesan)
Pesan yang dapat diambil:
-
Amarah dan angkara murka merusak kehidupan manusia.
-
Dunia akan hancur jika nilai kesetiaan dan kepedulian hilang.
-
Manusia harus tetap waspada dan menjaga moralitas.
-
Di tengah kehancuran, harapan dan doa tetap penting:
“Semoga kita semua tetap kuat dan panjang umur.”
III. Kesimpulan
Puisi “JARAH” menggambarkan kondisi dunia yang mengalami kemerosotan moral akibat amarah dan hilangnya kepedulian. Melalui pengulangan kata “jarah” dan diksi yang kuat, penyair menyampaikan kritik sosial sekaligus harapan agar manusia tetap bertahan dan menjaga nilai kehidupan.