Selasa, 17 Maret 2026

kidung dewa yadnya & Mantra pecaruan

Kumpulan Kidung Dewa Yadnya

Terdapat 5 kidung Dewa Yadnya yang sering ditembangkan, yaitu Kawitan Wargasari, Pupuh Gambuh, Mendak Bhatara (wargasari), Bramara Ngisep Sari, dan Turun Tirta. Berikut ini adalah pemaparan lengkap kelima kidung tersebut.

1. Kawitan Warga Sari

Purwakaning angripta rum
ning wana ukir
kahadang labuh kartika
panedenging sari
angayo tangguli ketur
angringring jangga mure

Sukanya arja winangun
winarna sari
rumrumning puspa priyaka
ingoling tangi
sampuning riris sumaru
menggwing srengganing rejeng

2. Pupuh Gambuh

Ngaturang kukus arum
Pangiring pujabakti ka luhur
Maduluran canang gantal
Canang sari
Saha kidung matembang gambuh
Katur ring hyang Widi kawot

Purwaning puja katur
piranti asep menyan mawelun
Panyeregeg manggala yadnya
Sang sulinggih
Kukus cihna ripu dudus
Budi hening jati katon

Madasar budhi sadu
Saking Ias caryaning kayun
Manunas Panugrahan ida
Dewa Dewi
Miwah Pitara leluhur
Mugi nemu kerahayuan

Atur kesama pukulun
Antuk presangga mangayap iratu
Yadin tuna presarana
Yadnya bakti
Maka renaning penawur
Dening bhatara pangayom

Ampura ratu Hyang sinuhun
Manawi tuna bakti ingsun
ledang ugi ngampurayang
Asung asih
kreta nugraha ratu manuntun
Tityang sadia nyanggra manyuwun

3. Mendak Bhatara (wargasari)

Asep pejati wus katur,
Mendak Ida Bhatarane,
Paneteg Ian canang arum,
Canang gantal canang sari,
Parekan pada menangkil,
Pedek sami nunas ica,
Ngadpada manyungsung,
Mengaturang palinggih

Tengeran Bhatara rawuh,
Ketug lindu manggalana,
Kilat tatit kuwug-kuwug,
Dumilah ngadeg ring langit,
Raris maduluran angin,
Mangalinus maring jagat
Rempak taru rubuh,
Katibanan angin.

Bhatara makire tedun,
Anglayang diambarane,
Busanane sarwa murub,
Tur anunggang wyalapati,
Warnane angresing hati,
Risampun prapti ring pura,
Ancangan tumurun,
Natasang pelinggih.

Dibale manike luhung,
Mapanyengker ring tlagane,
Kadagingin tanjung tutur,
Tunjung bang tunjung putih,
Ring madyaning bale alit,
Isa Bhatara mabawos,
Nganggit sekar jepun,
Sekarang memargi.

4. Bramara Ngisep Sari

Om om sembah ikatunan,
dumadak jua kaaksi,
mungguing pangubaktin tityang,
nista solah lawan wuwus,
muwah banget hina budi.

Kewanten sredaning manah,
miwah katlebaning hati,
kalawan eling tan pegat,
kanggen manyanggra manyuwun,
pican iratu sang luwih.

Iratu langkung pawikan,
ring manah sarwa dumadi,
ne jati kalawan boya,
ne corah lan bakti mulus,
ne patut kalawan rusit.

Apan paduka bhatara,
ne mula nodyanin gumi,
weruh ring sakandan jagat,
saluwir ne wus kalangkung,
mangkin miwah ne kawuri.

Sakala lawan niskala,
bhatara ngraganin sami,
wesnawa suksma bhatara,
brahma niskala iratu,
pepek sami karaganin.

5. Turun Tirta

Turun tirta saking luhur
Ne nyiratang pemangkune
Mangelencok muncrat mumbul
Mapan tirta merta jati
Paican betara sami
Panglukatan dasa mala
Sami padalebur
malane ring bumi

Maketis ping tiga sampun
pabahan siwa dwarane
wangsuhane raris inum
ping tiga lantas mesugi
ring waktra magentos genti
toya amertha widhine
Sami sampun puput
Mengalangin hati

Turun tirta saking luhur
Tirta panca dewatane
Wisnu tirta kamandalu
Hyang iswara sanjiwani
Mahadewa kundalini
Hyang brahma tirta pawitra
Hyang siwa pamuput
amerta kinardi




Dikutip dari 

Mantra pecaruan ayam brumbun bertujuan menyucikan tempat dan menyeimbangkan energi negatif (Bhuta Kala), terutama di tengah area (madya) menggunakan ayam berbulu campuran/brumbun. Mantra ini memanggil Sang Bhuta Tiga Sakti dan Dewa Siwa sebagai saksi, memohon agar kekuatan jahat menjadi harmoni.
Mantra Caru Ayam Brumbun (Ring Tengah):
"Om indah ta kita sang bhuta saksi, ring madya desanira. Kliwon panca waranya Dewa Siwadewatanya, iki tadah sajinira penek manca warna maiwak ayam brumbun, ingolah winangun urip, katekeng seruntutannya, ajak sawadwanira ulung siki, minawi wenten kirang luput, den agung sinampura sang adruwe caru."
Artinya:
"Ya Tuhan dalam manifestasi sebagai Sang Bhuta Saksi, yang berada di tengah-tengah. Panca waranya Kliwon, Dewanya adalah Siwa, inilah sajianmu penek manca warna (lima warna) disertai daging ayam brumbun yang diolah hidup, beserta seluruh pengikutnya berjumlah 888. Jika ada kekurangan, mohon dimaafkan oleh yang memiliki caru."
Tambahan Mantra/Pemujaan:
  • Membakar dupa: "Om Ang Brahma-amretha dhipa ya namah, Om Ung Wisnu-amretha dhipa ya namah, Om Mang Iswara-amretha dhipa ya namah."
  • Membasuh tangan: "Om Hrang Ung Phat Astra Ya Namah Swaha."
  • Penutup: "Om Siddirasastu swaha. Om Ing namah swaha."
Pecaruan ini biasanya dilaksanakan pada hari raya seperti Pengerupukan (sehari sebelum Nyepi) atau upacara di tingkat rumah tangga (karang) untuk menjaga harmoni

Minggu, 08 Maret 2026

pengertian negosiasi

1. Menurut Roger Fisher dan William Ury
Negosiasi adalah proses komunikasi dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan berbeda untuk mencapai kesepakatan bersama melalui perundingan.

2. Menurut Stephen P. Robbins
Negosiasi adalah proses di mana dua pihak atau lebih bertukar barang atau jasa dan berusaha menyepakati nilai tukar atas barang atau jasa tersebut.

3. Menurut Roy J. Lewicki
Negosiasi merupakan proses komunikasi antara dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan berbeda dan bertujuan mencapai kesepakatan.

4. Menurut Oliver Serrat
Negosiasi adalah proses diskusi antara dua pihak atau lebih untuk mencapai kesepakatan yang dapat diterima bersama.

5. Menurut Gerald I. Nierenberg
Negosiasi adalah proses di mana dua pihak atau lebih yang memiliki kepentingan yang sama maupun berbeda bertemu untuk mencapai kesepakatan.

6. Menurut Charles W. L. Hill
Negosiasi adalah proses di mana dua pihak atau lebih mencoba menyelesaikan perbedaan kepentingan melalui diskusi untuk memperoleh kesepakatan.

7. Menurut Ricky W. Griffin
Negosiasi adalah proses yang digunakan oleh dua pihak atau lebih untuk mencapai kesepakatan ketika masing-masing memiliki tujuan yang berbeda.

8. Menurut Kenneth E. Boulding
Negosiasi adalah proses pertukaran ide atau kepentingan antara pihak-pihak yang berkonflik untuk mencapai penyelesaian.

9. Menurut Fred C. Lunenburg
Negosiasi adalah proses interaksi antara dua pihak atau lebih yang bertujuan untuk mencapai kesepakatan bersama dalam suatu masalah.

10. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
Negosiasi adalah proses tawar-menawar melalui perundingan untuk mencapai kesepakatan antara satu pihak dengan pihak lain.

Kamis, 05 Maret 2026

Merindukan Diriku

Merindukan Diriku


Oleh Luh Arik Sariadi


Malam meraba gerbang rahasia,
dan mantra dieja sebagai biola di kala senja
Angin meringkih lirih di telinga batu
Catatlah, dunia lain memanggil manggil namaku dari celah waktu.

Langit gelap semelengking suara biola
bintang-bintang bingung, bingung, dan pilu
menjadi tua renta

Aku terbang mengambang dalam remang
di sana bayangan menari tanpa tubuh 
suara-suara bisu berteriak dalam diam

“Datanglah, datanglah,” panggilnya
dari galaksi yang belum rapi,  

dari cahaya lebih terang dari matahari

Gelap mengalah untuk terang,
terang dilahap gelap
hingga nyata dan gaib tak lagi berjarak.

Di lubang dawai itu,
aku merindukan diriku—
atau mungkin,
dirikulah yang dirindukan.



Merindukan Diriku

Oleh Luh Arik Sariadi

Malam meraba gerbang rahasia,
dan mantra dieja sebagai biola senja (metafora).
Angin meringkih lirih di telinga batu (personifikasi),
Catatlah, dunia lain memanggil namaku dari celah waktu.

Langit gelap semelengking suara biola (simile),
bintang-bintang bingung, bingung, dan pilu (repetisi)
menjadi tua renta

Aku terbang mengambang dalam remang (aliterasi),
di sana bayangan menari tanpa tubuh (paradoks),
suara-suara bisu berteriak dalam diam (oksimoron).

“Datanglah, datanglah,” panggilnya (anafora),
dari galaksi yang belum rapi,  

dari cahaya lebih terang dari matahari (hiperbola).

Gelap mengalah untuk terang,
terang dilahap gelap (antitesis),
hingga nyata dan gaib tak lagi berjarak.

Di lubang dawai itu,
aku merindukan diriku—
atau mungkin,
dirikulah yang dirindukan.

Aku Bocah Lincah

Aku Bocah Lincah


Oleh Luh Arik Sariadi


Aku bocah lincah

berjalan tanpa peta menelusuri setiap celah di gawai terbaru,

sementara nasihat ibu dan ayah hanya maps buta 

tak pernah mengalir dalam darah.


Kata-kata mereka sayup-sayup dan senyap,

karena aku pura-pura tuli,

seakan semesta hanya tunduk kepadaku. 


Nasihat itu bagai hujan kembang api,

Menakjubkan berpendar ke langit 

namun tanah tak tersentuh bahkan tak terbakar


“Aku sudah dewasa!” kataku,

padahal langkahku masih tertatih di antara keras lemah kehidupan


Usia meninggalkan ingatanku, 

meninggalkan masa yang kosong 

bagikan angkasa yang lengang setelah Rudal Iran melebur Doha dan Manama


Kini kusadari,

seperti melewati lintasan tambang minyak,

yang tak sempat kukilang di dalam diri

hanya untuk kebebasan 

yang justru meruntuhkan masa depanku


Tangis ibu adalah kota-kota yang berhamburan,

amarah ayah adalah rudal-rudal yang dilepas kesal,

dan aku hanya kilang kecil

yang mengalir di antara perang


Aku bocah lincah, minyak-minyak keruh yang menimbun para tawanan perang,

namun cinta ayah dan ibu serupa seruan,

yang telah dibombardir dari jutaan mil


Andai waktu berderap dengan pelan,

sebelum dihujani lara tangisku sendiri, aku akan menggali minyak-minyak itu. (majas antitesis)


Kini aku belajar,

bahwa menjadi diri sendiri lebih sulit

daripada membangun puing-puing kota yang tersisa




Analisis Unsur-Unsur Puisi
Puisi: Aku Bocah Lincah

Karya: Luh Arik Sariadi

1. Tema

Tema puisi ini adalah penyesalan seorang anak yang dahulu mengabaikan nasihat orang tua karena merasa sudah dewasa. Puisi ini menggambarkan konflik batin antara kebebasan, kesombongan masa muda, dan kesadaran yang datang terlambat.

2. Amanat

Amanat yang terkandung dalam puisi ini yaitu:

Anak sebaiknya menghargai nasihat orang tua.

Kebebasan tanpa arah dapat merusak masa depan.

Kedewasaan bukan hanya soal usia, tetapi kemampuan memahami kehidupan.

Penyesalan sering datang setelah kesalahan terjadi.

3. Rasa (Feeling)

Perasaan yang dominan dalam puisi ini adalah:

Kesombongan masa muda pada bagian awal.

Kebingungan dan konflik batin ketika menghadapi kehidupan.

Penyesalan mendalam pada bagian akhir puisi.

Kesadaran diri bahwa nasihat orang tua sangat berharga.

4. Nada dan Suasana
Nada

Nada puisi bersifat:

Reflektif

Menyesal

Kontemplatif

Penyair seolah berbicara kepada dirinya sendiri dan kepada pembaca tentang kesalahan masa lalu.

Suasana

Suasana yang tercipta dalam puisi:

Melankolis

Penuh renungan

Sedikit getir dan tragis

5. Diksi (Pilihan Kata)

Puisi menggunakan diksi yang:

Modern dan kontekstual
Contoh: gawai terbaru, maps.

Metaforis dan simbolik
Contoh: kilang minyak, rudal, perang.

Diksi tersebut memperkuat gambaran konflik batin dan kekacauan hidup tokoh aku.

6. Imaji (Citraan)

Puisi ini mengandung beberapa citraan:

Citraan Penglihatan

Contoh:

“Nasihat itu bagai hujan kembang api”

“Tangis ibu adalah kota-kota yang berhamburan”

Pembaca dapat membayangkan visual yang kuat.

Citraan Pendengaran

Contoh:

“Kata-kata mereka sayup-sayup dan senyap”

Citraan Perasaan

Contoh:

“Aku hanya kilang kecil yang mengalir di antara perang”

7. Gaya Bahasa (Majas)

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi:

Metafora

“Tangis ibu adalah kota-kota yang berhamburan”

Perumpamaan (Simile)

“Nasihat itu bagai hujan kembang api”

Personifikasi

“Usia meninggalkan ingatanku”

Hiperbola

“dibombardir dari jutaan mil”

Antitesis

“keras lemah kehidupan”

Metafora simbolik

“kilang kecil yang mengalir di antara perang”

Ironi

“Aku sudah dewasa!” padahal langkahku masih tertatih

8. Struktur Batin Puisi

Struktur batin puisi terdiri dari:

Tema → penyesalan dan kesadaran diri

Rasa → penyesalan dan refleksi

Nada → perenungan terhadap kesalahan masa lalu

Amanat → pentingnya mendengarkan nasihat orang tua

9. Struktur Fisik Puisi
Tipografi

Puisi berbentuk bait bebas (puisi bebas)

Tidak terikat rima dan jumlah baris tertentu.

Rima

Puisi tidak menggunakan rima tetap.

Keindahan lebih bertumpu pada makna dan citraan.

Kata Konkret

Contoh:

gawai

maps

rudal

kilang minyak

kota

Kata-kata konkret ini membantu pembaca membayangkan situasi secara nyata.

✅ Kesimpulan

Puisi Aku Bocah Lincah menggambarkan perjalanan batin seorang anak yang awalnya sombong dan merasa bebas, tetapi akhirnya menyadari bahwa ia telah mengabaikan nasihat orang tuanya. Puisi ini kuat dalam penggunaan metafora modern seperti teknologi dan peperangan untuk melukiskan konflik batin serta penyesalan yang mendalam.


Analisis majas-majas puisi tersebut:

Aku Bocah Lincah

Oleh Luh Arik Sariadi


Aku bocah lincah

berjalan tanpa peta menelusuri setiap celah di gawai terbaru,
sementara nasihat ibu dan ayah
hanya maps buta 

tak pernah mengalir dalam darah. (majas metafora)

Kata-kata mereka sayup-sayup dan senyap,
karena aku pura-pura tuli,
seakan semesta hanya tunduk kepadaku. (majas hiperbola)

Nasihat itu bagai hujan kembang api,
Menakjubkan berpendar ke langit 
namun tanah tak tersentuh bahkan tak terbakar. (majas simile dan personifikasi)

“Aku sudah dewasa!” kataku,
padahal langkahku masih tertatih
di antara keras lemah kehidupan. (majas ironi)

Usia meninggalkan ingatanku,
meninggalkan masa yang kosong 

bagikan angkasa yang lengang setelah Rudal Iran melebur Doha dan Manama . (majas personifikasi)

Kini kusadari,
seperti melewati lintasan tambang minyak,

yang tak sempat kukilang di dalam diri
hanya untuk kebebasan 

yang justru meruntuhkan masa depanku. (majas paradoks)

Tangis ibu adalah kota-kota yang berhamburan,
amarah ayah adalah rudal-rudal yang dilepas,
dan aku hanya kilang kecil
yang mengalir di antara perang. (majas alegori)

Aku bocah lincah, minyak-minyak keruh yang menimbun para tawanan perang, (majas metafora)
namun cinta ayah dan ibu serupa seruan,
yang telah dibombardir dari jutaan mil. (majas hiperbola)

Andai waktu berderap dengan pelan,
sebelum dihujani lara tangisku sendiri, aku akan menggali minyak-minyak itu. (majas antitesis)

Kini aku belajar,
bahwa menjadi diri sendiri lebih sulit
daripada membangun puing-puing kota yang tersisa. (majas satire)


Minggu, 01 Maret 2026

Analisis Puisi Jarah karya Luh Arik Sariadi

JARAH

Oleh Luh Arik Sariadi



Sami kajarah

Olih manah madasar corah Nénten malih satinut tekéning tutur lan titah Manados i manusa campah

Tan wénten sané satya masawitra

Sané adeg malinggih

Napi malih kayun ngupapira Ciri jagaté sampun usak

Sami katektek, sami kaebah

Jarah

Sami kajarah

Nénten malih ipun bungah

Wantah mangundang angkaraning murka Matilar suka, ngamedalang duka

Tan wénten sane satya sayaga


Napi malih wantah waspada Jagaté dumun degdeg landuh Sane mangkin boya ja gentuh Nunas mangda sami lantang tuuh


JARAH

(Terjemahan Bahasa Indonesia)

Jarah
Semua terjarah,
Oleh pikiran yang dilandasi amarah.
Tak lagi patuh pada tutur dan aturan,
Membuat manusia menjadi kacau.

Tak ada lagi yang setia bersahabat,
Yang tetap tegak berdiri,
Apalagi yang mau peduli.
Tanda dunia telah rusak,
Semua tercabik, semua tercerai-berai.

Jarah
Semua terjarah,
Tak ada lagi kebahagiaan,
Hanya memanggil angkara murka.
Meninggalkan suka, menghadirkan duka.

Tak ada yang setia berjaga,
Apalagi sekadar waspada.
Dunia dulu kokoh dan tenteram,
Kini tak lagi benar-benar teguh.

Semoga kita semua tetap kuat dan panjang umur.


 

Berikut analisis unsur-unsur puisi “JARAH” (terjemahan Bahasa Indonesia) karya Luh Arik Sariadi.


ANALISIS UNSUR-UNSUR PUISI

JARAH


I. Unsur Fisik Puisi

1. Diksi (Pilihan Kata)

Puisi ini menggunakan diksi yang lugas namun kuat secara makna. Kata-kata seperti:

  • terjarah

  • amarah

  • angkara murka

  • tercabik

  • tercerai-berai

  • duka

  • rusak

menunjukkan suasana kehancuran moral dan sosial.

Kata “jarah” menjadi kata kunci (simbol utama) yang bermakna perampasan atau kerusakan yang terjadi secara menyeluruh, baik secara fisik maupun batin.


2. Imaji (Citraan)

Puisi ini lebih dominan menggunakan imaji perasaan (psikis):

  • “Membuat manusia menjadi kacau”

  • “Tak ada lagi kebahagiaan”

  • “Meninggalkan suka, menghadirkan duka”

Ada pula imaji visual yang menggambarkan kerusakan:

  • “Semua tercabik, semua tercerai-berai”

  • “Dunia dulu kokoh dan tenteram, kini tak lagi benar-benar teguh”

Imaji tersebut membantu pembaca membayangkan kondisi dunia yang porak-poranda secara moral.


3. Majas (Gaya Bahasa)

Beberapa majas yang digunakan:

  1. Repetisi (Pengulangan)

    • “Jarah / Semua terjarah”
      Pengulangan ini menegaskan bahwa kerusakan terjadi secara menyeluruh dan berulang.

  2. Metafora

    • “Dunia telah rusak” → bukan hanya kerusakan fisik, tetapi kerusakan moral.

    • “Semua tercabik” → menggambarkan kehancuran nilai dan hubungan sosial.

  3. Antitesis (Pertentangan)

    • “Meninggalkan suka, menghadirkan duka”

    • “Dulu kokoh dan tenteram / kini tak lagi teguh”

Pertentangan ini memperkuat kesan perubahan dari keadaan baik menjadi buruk.


4. Rima dan Tipografi

  • Termasuk puisi bebas, tidak terikat pola rima tertentu.

  • Struktur bait pendek-pendek menciptakan tekanan emosional.

  • Penempatan kata “Jarah” sebagai pembuka dua bagian memberikan efek dramatis dan penegasan tema.


II. Unsur Batin Puisi

1. Tema

Tema utama puisi ini adalah:

  • Kerusakan moral manusia

  • Hilangnya nilai kesetiaan dan kepedulian

  • Kemerosotan kondisi dunia akibat amarah dan angkara murka


2. Rasa (Perasaan Penyair)

Perasaan yang muncul dalam puisi ini:

  • Keprihatinan

  • Kekecewaan

  • Kesedihan

  • Kegelisahan terhadap kondisi dunia

Namun pada bagian akhir muncul secercah harapan.


3. Nada dan Suasana

  • Nada: Tegas dan reflektif, seperti peringatan moral.

  • Suasana: Suram dan prihatin, tetapi ditutup dengan harapan.


4. Amanat (Pesan)

Pesan yang dapat diambil:

  • Amarah dan angkara murka merusak kehidupan manusia.

  • Dunia akan hancur jika nilai kesetiaan dan kepedulian hilang.

  • Manusia harus tetap waspada dan menjaga moralitas.

  • Di tengah kehancuran, harapan dan doa tetap penting:
    “Semoga kita semua tetap kuat dan panjang umur.”


III. Kesimpulan

Puisi “JARAH” menggambarkan kondisi dunia yang mengalami kemerosotan moral akibat amarah dan hilangnya kepedulian. Melalui pengulangan kata “jarah” dan diksi yang kuat, penyair menyampaikan kritik sosial sekaligus harapan agar manusia tetap bertahan dan menjaga nilai kehidupan.

UNGGULAN

kidung dewa yadnya & Mantra pecaruan

Kumpulan Kidung Dewa Yadnya Terdapat 5 kidung Dewa Yadnya yang sering ditembangkan, yaitu Kawitan Wargasari, Pupuh Gambuh, Mendak Bhatara (w...