Merindukan Diriku
Oleh Luh Arik Sariadi
Malam meraba gerbang rahasia,
dan mantra dieja sebagai biola senja
Angin meringkih lirih di telinga batu
Catatlah, dunia lain memanggil namaku dari celah waktu.
Langit gelap semelengking suara biola
bintang-bintang bingung, bingung, dan pilu
menjadi tua renta
Aku terbang mengambang dalam remang
di sana bayangan menari tanpa tubuh
suara-suara bisu berteriak dalam diam
“Datanglah, datanglah,” panggilnya
dari galaksi yang belum rapi,
dari cahaya lebih terang dari matahari
Gelap mengalah untuk terang,
terang dilahap gelap
hingga nyata dan gaib tak lagi berjarak.
Di lubang dawai itu,
aku merindukan diriku—
atau mungkin,
dirikulah yang dirindukan.
Merindukan Diriku
Oleh Luh Arik Sariadi
Malam meraba gerbang rahasia,
dan mantra dieja sebagai biola senja (metafora).
Angin meringkih lirih di telinga batu (personifikasi),
Catatlah, dunia lain memanggil namaku dari celah waktu.
Langit gelap semelengking suara biola (simile),
bintang-bintang bingung, bingung, dan pilu (repetisi)
menjadi tua renta
Aku terbang mengambang dalam remang (aliterasi),
di sana bayangan menari tanpa tubuh (paradoks),
suara-suara bisu berteriak dalam diam (oksimoron).
“Datanglah, datanglah,” panggilnya (anafora),
dari galaksi yang belum rapi,
dari cahaya lebih terang dari matahari (hiperbola).
Gelap mengalah untuk terang,
terang dilahap gelap (antitesis),
hingga nyata dan gaib tak lagi berjarak.
Di lubang dawai itu,
aku merindukan diriku—
atau mungkin,
dirikulah yang dirindukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar