Jumat, 08 Mei 2026

Tepi Kota Yang Hilang


CERPEN DIGITAL
Tepi Kota Yang Hilang
Oleh Winne Aprilia Putri


Pak Amir hanya diam. Ia tahu tak ada gunanya berdebat dengan takdir yang sudah disusun di meja-meja rapat jauh di gedung pemerintahan sana.

Di pinggiran kota yang kian sesak, berdiri deretan rumah kontrakan berdinding tripleks dengan atap seng berkarat. Di salah satu sudut gang sempit itu, Pak Amir memarkir becaknya setelah seharian mengayuh di bawah terik matahari. Peluhnya menetes di tanah berdebu, bercampur dengan genangan air got yang tak pernah kering.

Dari dalam rumah, terdengar denting panci beradu, Bu Sari tengah bersiap membuat nasi uduk untuk dagangan esok. Rani duduk bersila di lantai, menyalin pelajaran dari buku pinjaman sekolah. Cahaya bohlam murahan menggantung di tengah ruangan, temaram tapi cukup untuk membuat rumah mereka terasa hidup.

”Pak,” katanya tiba-tiba, ”Kalau Rani udah gede, Rani mau jadi guru. Biar anak-anak kampung bisa pintar semua.” Wajahnya tampak ceria saat mengucapkannya.

Pak Amir terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. ”Bagus itu, Nak. Tapi kalau mau jadi guru, kamu harus rajin belajar, enggak gampang nyerah, dan jangan lupa berdoa. Orang yang sabar pasti dikasih jalan.” Hatinya nyeri oleh harapan yang terasa terlalu tinggi untuk dijangkau.

Pak Amir melangkah ke teras dan duduk di bangku bambu yang mulai rapuh. Angin sore menyapa wajahnya yang lelah. Dalam sepekan terakhir, kabar tentang proyek pembangunan apartemen dan jalan tol semakin sering bergema di telinga warga. Di ujung gang, spanduk besar bertuliskan ”Pembangunan untuk Kemajuan Kota” berkibar, seolah sedang menertawakan rumah reyot di sekitarnya.

Pandangan Pak Amir tertuju pada becaknya yang terparkir di depan rumah. Catnya yang memudar dan roda yang berkarat seakan menyimpan jejak lelah yang tak terhitung. Dalam hati ia sadar, perjalanan mencari nafkah di gang ini perlahan mendekati ujung jalan. ”Kemajuan,” pikirnya, terdengar manis, tapi sering kali ada kehidupan yang harus dikorbankan.

Keesokan paginya, suara riuh terdengar dari ujung gang. Beberapa orang berbaju rapi datang membawa map tebal dan kamera. Di belakang mereka, tampak dua petugas kelurahan dan seorang pria berhelm putih dengan logo perusahaan konstruksi di rompinya.

”Mohon perhatian, Bapak-Ibu,” salah satu dari mereka berseru sambil mengangkat pengeras suara. ”Wilayah ini akan segera direlokasi untuk proyek pembangunan jalan tol. Kami minta kerja sama semua warga untuk segera mengosongkan area dalam dua minggu ke depan.”

Warga yang sedang berjualan, mencuci, atau sekadar duduk di depan rumah langsung berhenti beraktivitas. Suara anak-anak yang tadinya bermain petak umpet pun mendadak hilang. Hanya bisik-bisik panik yang tersisa di udara.

Bu Sari keluar dari rumah dengan tangan masih memegang sendok nasi. ”Relokasi? Maksudnya digusur, Pak?” tanyanya dengan suara bergetar.

Petugas hanya tersenyum tipis. ”Bukan digusur, Bu. Dipindahkan ke tempat yang lebih layak. Nanti akan ada ganti rugi sesuai data warga.”

Kami minta kerja sama semua warga untuk segera mengosongkan area dalam dua minggu ke depan.

Namun, tak ada satu pun yang benar-benar mengerti maksud ”tempat yang lebih layak” itu. Mereka hanya punya sepetak rumah kontrakan, itu pun hasil menabung bertahun-tahun.

Pak Amir berdiri di samping becaknya, mendengarkan tanpa bicara. Dalam hati ia tahu, kata ganti rugi sering kali tak lebih dari janji yang hilang di antara tumpukan berkas. Ia menatap Rani yang berdiri di ambang pintu, menatap para tamu asing itu dengan mata polos.

Malamnya, suasana kampung berubah. Warga berkumpul di depan warung Bu Sari, membicarakan nasib mereka. Ada yang marah, ada yang pasrah, ada pula yang berusaha menenangkan diri dengan doa.

”Katanya, uang ganti ruginya bakal cair bulan depan,” ucap seorang bapak sambil menyalakan rokok.

”Tapi rumah mau diratakan dua minggu lagi,” sahut yang lain. ”Kita mau tinggal di mana sementara?”

Pak Amir hanya diam. Ia tahu tak ada gunanya berdebat dengan takdir yang sudah disusun di meja-meja rapat jauh di gedung pemerintahan sana.

Di kejauhan, lampu-lampu kota berkelip—megah dan terang. Tapi di gang kecil itu, cahaya terasa redup, seolah ikut muram menatap masa depan yang belum pasti.

Rasa tegang kian menyelimuti pak Amir dan warga. Raksasa besi mulai datang beruntun mengangkut alat berat. Tanah yang dulunya menjadi tempat bermain Rani dan teman-temannya kini dibongkar tanpa belas kasihan. Di beberapa rumah pun telah bertuliskan ”Rumah siap bongkar” seperti cap yang terpatri muncul pada dinding dingin pucat yang seakan merasakan kesedihan para warga. Sementara itu, Pak Amir hanya bisa melihat tanda pada dinding dengan dada sesak, dan Bu Sari hanya bisa duduk termenung di pojokan dapur sambil melihat panci dagangannya yang belum sempat ia gunakan. ”Kalau rumah ini dibongkar, kita tinggal di mana, Pak?” tanyanya lirih.

Pak Amir hanya diam, bibirnya kelu tak bisa menjawab, sorot matanya hanya terisi kekosongan. Di luar, warga mulai berkumpul. Seorang ibu menangis histeris karena ganti rugi belum juga ada kabar baik, lantas seorang pemuda berteriak menantang petugas. ”Katanya relokasi layak, mana buktinya?” Tapi teriakan yang menggema bak raungan serigala itu tenggelam dalam raungan mesin.

Keesokan paginya, monster baja itu kembali, mendekat perlahan. Warga panik, berlarian menyelamatkan barang sebisa mereka. Sedangkan Rani hanya bisa memeluk tas sekolahnya erat. ”Pak, buku Rani masih di dalam…” suaranya gemetar.

Dengan tekad yang besar, Pak Amir melangkah maju menghadang penjahat besi itu. ”Berhenti! Jangan bongkar rumah kami!” teriaknya lantang. Para pekerja tak menghiraukan raungan Pak Amir seraya bergerak tanpa ragu menghancurkan rumah warga hingga menjadi kepingan yang tak bersisa, melihat itu warga terdiam membisu. Angin hanya bisa berperan membawa bau debu dan seng yang telah terbakar. Dalam hatinya, Pak Amir tahu, mungkin rumahnya akan hilang, tapi tidak dengan harapan yang telah ia tanam di mata anaknya.

Mentari sore tergantung lesu di atas langit, seolah ikut menyaksikan luka yang masih menganga lebar. Jalan berdebu menjadi saksi bisu keluarga kecil itu dengan keadaan termangu. Kini bukan lagi bangunan dengan atap usang yang sudah berkarat, melainkan kain mota berwarna biru yang mulai sobek di beberapa sisi. Suara kendaraan menjadi pengantar tidur yang getir, tiang-tiang beton menjulang tinggi menandai awal berdirinya bangunan megah di atas tanah yang dulunya sebagai tempat singgah untuk menghilangkan lejar.

”Pak, memangnya orang seperti kita tidak boleh punya tempat tinggal, ya? Kenapa rumah kita diganti dengan bangunan tinggi itu?”

”Rani anakku, terkadang keadilan tertidur di sisi yang salah. Tapi ingat pesan bapak selama kita tidak menyerah, kita masih punya tempat untuk rehat meski bukan rumah dengan bangunan yang kokoh, melainkan rumah dari tekad keberanian,” ungkap bapak.

Kalau rumah ini dibongkar, kita tinggal di mana, Pak?”

Matanya memandang jauh ke depan seakan masih terpancar setitik cahaya harapan. Kata-kata penenang terus terlontar dari mulutnya, jika bapak senantiasa memberikan ketenangan, lantas siapa yang akan memberikan ketenangan kepada sang kepala keluarga? Entahlah. Mungkin hanya doa yang ia bisikkan kepada Sang Pencipta di sepertiga malam, di antara desir angin dan nyala lampu yang temaram.

Hari-hari berlalu perlahan. Pak Amir kembali menarik becaknya di kawasan kota yang kini semakin ramai dan asing. Namun, roda becak itu tak lagi seramai dulu, penumpang makin jarang, kalah oleh ojek daring yang berseliweran tanpa henti. Meski begitu, setiap pagi ia tetap berangkat dengan semangat yang sama, berharap masih ada rezeki yang tersisa di antara deru kendaraan dan gedung menjulang.

Rani tetap bersekolah, menempuh jarak yang lebih jauh dari tempat tinggal baru mereka di pinggiran kota. Setiap kali ia pulang membawa nilai ulangan yang bagus, wajah Pak Amir kembali bercahaya. Di tengah kesulitan, anak kecil itu menjadi pelita kecil yang menuntun hatinya agar tidak tenggelam dalam keputusasaan.

Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, Pak Amir berhenti di tepi jalan tol yang baru selesai dibangun. Di seberang sana, terlihat mobil-mobil melintas cepat simbol kemajuan yang dulu menggusur tempat tinggalnya. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil.

”Mungkin dunia ini memang terus berlari, Nak,” katanya kepada Rani yang duduk di samping becaknya. ”Tapi kita tidak boleh berhenti berharap. Karena kalau kita berhenti, kita benar-benar akan tertinggal.”

Rani menatap langit jingga yang mulai berpendar lembut. ”Rani enggak akan berhenti, Pak. Rani mau sekolah tinggi, biar nanti bisa bantu orang-orang kayak kita.”

Itu harapan yang paling indah yang pernah Bapak dengar, Nak.

Pak Amir mengangguk pelan. ”Itu harapan yang paling indah yang pernah Bapak dengar, Nak.”

Angin sore bertiup membawa bau aspal baru bercampur debu. Di balik keramaian kota yang terus tumbuh, masih ada suara kecil yang berjuang untuk tetap hidup dengan jujur dan bermartabat.

Malam itu, di rumah sederhana yang dibangun dari papan bekas dan harapan yang tak lekang, Pak Amir menatap anaknya yang sedang belajar di bawah cahaya lampu redup. Ia sadar, mungkin ia tak bisa menghadiahkan kemewahan, tapi ia telah mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga, keteguhan dan keyakinan bahwa kemiskinan bukan alasan untuk menyerah.

Karena meski mereka tergusur dari tempat tinggal lama, mereka tidak pernah tergusur dari harapan dan martabat sebagai manusia.

Dan di sanalah, di tepi kota yang dulu hilang, lahir harapan baru, harapan dari tangan-tangan sederhana yang tetap percaya bahwa keadilan dan kasih sayang suatu hari akan menemukan jalannya sendiri.


Sumber: Kompas. 14 Feb 2026 07:00 WIB · Cerpen

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UNGGULAN

Bukan Pecundang

Bukan Pecundang Oleh Luh Arik Sariadi Aku harus mencari Suar. Aku yakin ia bukan pecundang yang melompat dari atas jembatan yang baru selesa...