Selasa, 15 September 2026

Gendis Menulis

Gendis Menulis
Oleh 
Muhammad Fariz Ardan Fitriansyah


Di bawah rembulan yang nampak cerah dan penuh, Gendis masih berkutat menyelesaikan tugas sekolah tentang cerita masa liburan. Tak ada yang benar-benar spesial dari liburannya kali ini. Mungkin, hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya berkunjung ke rumah sanak saudara, membantu ibu mencuci pakaian, memijat Mas Gayuh kala malam, dan duduk memperhatikan kilau cahaya pada permukaan air depan rumah. Karena tak ada teman bermain, Gendis hanya mengobrol dan bermain dengan Mas Gayuh yang baru pulang kerja. Beberapa temannya telah pindah rumah, rumah barunya benar-benar menapak tanah. Mereka bisa leluasa bermain di depan rumahnya, tak seperti rumah Gendis. 

Rumah Gendis seperti resor eksklusif di Maladewa, dengan air laut mengelilingi seluruh rumahnya. Bedanya, lokasinya di pesisir utara dan interior rumahnya tak seindah resor. Hanya ada lampu di ruang tengah, TV kecil yang agak berdebu, dan papan kayu reyot yang selalu mengeluarkan bunyi ketika diinjak. Namun, Gendis kecil selalu suka dengan bunyi kayu reyot. Sudah beberapa kali rumah Gendis dan beberapa tetangganya ditinggikan. Namun, air laut terus naik seakan hendak menyapa kaki para warga setempat. 

”Mas, nek dulu rumah kita seperti apa?” tanya Gendis sambil beralih dari posisi tengkurap menuju bersila. 

”Emm, waktu mas kecil, halaman rumah kita luas. Biasanya ibu jemur pakaian di sana,” jawab Gayuh seraya menunjuk ke hamparan air tak tentu. ”Dulu daerah sini subur, Ndis. Banyak tumbuhan dan sawah,” sambungnya. 

”Terus, biasanya bapak dulu ngapain?” tanya Gendis. Ingatan akan bapaknya terasa samar. 

”Bapak dulu suka ngopi dan ndongeng kalo malam,” jawab Gayuh sekenanya. 

Usai mendengar jawaban Mas Gayuh, Gendis berfokus kembali ke buku tulisnya, mencatat perkataan Mas satu-satunya. Beberapa kali berpikir panjang tentang hal yang sulit ia deskripsikan. Terkadang tulisannya bercampur antara bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Bu guru tak masalah dengan hal tersebut, mungkin beberapa saja ia kena tegur. Ceritanya masih kurang satu halaman untuk selesai. 

Quote

Kata ’proses’ dan ’data’ terus terngiang-ngiang dalam kepala Gendis.

Siang tadi, ada rombongan mahasiswa datang ke rumah tetangga Gendis. Mereka berpakaian seperti orang biasa. Gadis kecil itu menjadi penasaran. Awalnya ia tak tahu siapa dan apa arti mahasiswa, setelah bertanya pada ibunya yang sedang membuat kopi untuk para mahasiswa, ia segera paham. ”Mahasiswa itu sama seperti kamu yang sedang sekolah. Tapi, sekolahnya khusus,” jawab ibunya. Berarti kelasnya luas ya. Belajarnya saja sampai ke rumahku, pikir Gendis. Mereka tampak sibuk mengobrol dan memotret lingkungan sekitar. Ah, bosan sekali menjadi mahasiswa. Lebih enak main. 

Gendis menggigit ujung pensil kayunya. Lalu menulis pelan-pelan. 

Hari ini kakak-kakak mahasiswa datang. Mereka memfoto rumahku. Mungkin rumahku bagus seperti di televisi. 

Ia berhenti sebentar, memalingkan wajahnya ke arah luar. Air laut berkilau terkena cahaya bulan, seperti banyak bintang yang jatuh dan mengambang. 

”Mas,” panggilnya lagi. 

”Hmm?” 

”Kalau rumah kita difoto, nanti masuk TV, ya?” 


Gayuh tersenyum kecil, tapi tidak langsung menjawab. ”Bisa jadi,” akhirnya mulutnya mengucapkan sesuatu. Ia masih lelah sepulang kerja, tetapi menyempatkan hadir kala adiknya belajar. 


Gendis mengangguk-angguk. Ia membayangkan dirinya melambaikan tangan dari layar televisi kecil mereka. Barangkali teman-temannya yang pindah dapat melihatnya. Ia lalu membuka halaman sebelumnya, menambahkan satu kalimat singkat. 

Kemarin juga ada bapak-bapak nenteng banyak kertas. 

Ia ingat siang itu. 

Kemarin siang, sehari sebelum para mahasiswa datang, ada tiga pria berseragam putih berdiri di depan rumah. Celana mereka digulung sampai lutut. Ada yang memegang map tebal berisi kertas, ada yang memayungi seseorang, dan ada yang dipayungi sembari mengelap keringat menggunakan sapu tangan Louis Vuitton. 

”Ibunya Gendis?” tanya pria bersapu tangan memastikan. 

”Nggih, Pak. Leres.” 

Mereka tidak masuk. Hanya berdiri di ambang pintu. Sesekali mata mereka fokus ke arah bawah, khawatir pijakannya tak seimbang dan tercebur. Pegawai negeri harus tetap bersih dan berwibawa. 

”Ada pendataan lagi. Untuk pendataan sama relokasi,” kata pria itu sambil menerima map dari temannya. 

Gendis berdiri di belakang ibunya, mengintip. 

Pria itu menyebutkan beberapa nama. Nama tetangga sebelah disebut. Bahkan, nama Bu Rani juga disebut. Gendis ingat betul Bu Rani, masakannya enak. Akan tetapi, Bu Rani sudah pindah agak lama. Masakannya yang lezat juga sepertinya dimasak di rumah barunya. 

”Ibu ikut daftar kemarin?” tanyanya. 

Ibu terdiam sebentar. Kemudian mendekap Gendis di sampingnya. ”Sudah, Pak. Dari tahun lalu.” 

Pria itu membalik beberapa lembar kertas. Lama. Kertasnya banyak sekali, sampai sedikit basah di ujung. 

”Wah, namanya belum masuk e, Bu,” ujar pria itu melanjutkan percakapan. 

”Belum masuk, Pak?” suara ibu pelan sekali. 

”Nggih, datanya belum lengkap,” katanya. ”Nanti dilengkapi saja ya.” 

 ”Yang kurang apa lagi, Pak?” 

Pria itu mengangkat bahu kecil. Lantas menoleh ke salah satu rekannya. ”Di sini cuma disuruh catat ulang.” Lalu ia menulis sesuatu. Cepat. Tanpa melihat ke dalam rumah. Tanpa memedulikan Gendis kecil menggelayut bingung di sebelah ibunya. Gendis melihat dengan saksama bagaimana tangan ibunya menggenggam ujung bajunya sendiri. 

Quote

Jawaban itu seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti bulan lalu, seperti yang sudah lalu.

”Kalau tidak masuk, tidak dapat bantuan, ya, Pak?” tanya ibu. 

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia menutup mapnya. 

”Nanti dilihat lagi, Bu. Ini masih proses.” 

Setelah itu, mereka pergi. Air beriak mengikuti langkah mereka. 

Kata ”proses” dan ”data” terus terngiang-ngiang dalam kepala Gendis. 

Gendis kembali fokus ke bukunya. Ia menulis lagi. Kali ini pelan-pelan. 

Bapak-bapak itu bawa banyak kertas. Kertasnya basah sedikit. Kata ibu nama kita belum masuk. 

Ia berhenti menulis. Kata ”masuk” terasa aneh, pikirnya. Masuk ke mana? 

Ia menoleh ke ibunya. ”Ibu,” panggilnya pelan. 

”Iya, Ndis.” 

”Kalau nama kita masuk, nanti kita pindah, ya?” 

Ibu tak langsung menjawab. Tangannya masih sibuk melipat kain yang setengah kering. Mas Gayuh hanya menatap kedua anggota keluarganya itu. 

”Lihat nanti, ya,” katanya. 

Jawaban itu seperti kemarin, seperti minggu lalu, seperti bulan lalu, seperti yang sudah lalu. 

Angin malam masuk melalui celah-celah dinding kayu. Membawa bau asin yang sudah sangat dikenal. Tiba-tiba terdengar air beriak lebih keras dan deras dari biasanya. Gayuh menoleh. ”Ndis, coba lihat pintu depan.” 

Gendis beringsut turun dari dipan, kakinya menyentuh air yang lebih dingin. Ia berjalan pelan. Papan kayu berbunyi krek-krek di bawahnya. Saat membuka pintu, air sudah hampir menyentuh ambang. 

Quote

Ia menatap garis itu lamat-lamat. Banyak sekali. Seperti anak tangga, tapi tidak bisa dipanjat ke mana-mana.

 ”Mas, airnya naik lagi,” kata Gendis pelan. 

Gayuh berdiri, lalu mendekat. Wajahnya sedikit berubah, tapi ia tetap tenang. ”Ambil tasmu, sama buku-bukumu. Taruh di atas meja.” 

”Iya, Mas.” 

Gendis segera berlari kecil. Ia mengambil buku tulisnya yang masih terbuka, meniup dan menyeka halaman yang sedikit basah, lalu meletakkannya di tempat tinggi. Bersama tas dan sepatu sekolahnya. Hanya itu yang dia punya. Sementara dari arah dapur, ibunya juga dengan sigap mengangkat barang-barang dengan cepat. Rumah mereka kembali sibuk, seperti hari-hari sebelumnya. Namun, bagi Gendis ini seperti permainan yang diulang. 

Usai menyelamatkan barang-barangnya, Gendis duduk di dekat meja, memandangi bukunya. Air kini sudah menyentuh kakinya lagi, lebih tinggi dari hari-hari kemarin. Ia menoleh ke arah dinding, mencari garis-garis coklat. ”Mas ini lebih tinggi dari kemarin ya?” tanyanya. 

Gayuh melihat sebentar, lalu mengangguk. ”Iya, sedikit.” 

Gendis tersenyum kecil. Ia mengambil pensil, lalu berdiri di atas bangku. Dengan hati-hati, ia menarik garis baru di dinding, sedikit di atas garis-garis sebelumnya. ”Biar ngga lupa,” katanya. Ia menatap garis itu lamat-lamat. Banyak sekali. Seperti anak tangga, tapi tidak bisa dipanjat ke mana-mana. 

Setelah itu, Gendis kembali ke bukunya. Halaman terakhir masih setengah kosong. Malam semakin larut dan kantuk mulai terasa, bersama aroma laut yang kian menusuk. Namun, ia menulis lagi. 

Liburanku menyenangkan. Aku bermain air setiap hari. Airnya datang terus, makanya aku ngga bosan. 

Tangannya berhenti sebentar, mengucek mata yang kian sayu. 

Kadang ibu ngobrol pelan sama Mas tentang pindah. Tapi belum jadi-jadi. Katanya masih nunggu. 

Quote

Di luar, air terus naik perlahan. Seakan tidak ada urusannya dengan kertas-kertas di map tebal.

Ia mengingat kata itu. Data. Proses. Kata-kata orang dewasa yang sulit dipahami maksudnya. Ia tak kunjung mengerti. Ia menggambar garis kecil di samping tulisannya. Kini tulisannya miring. Seperti garis-garis di dinding. 

Di luar, air terus naik perlahan. Seakan tidak ada urusannya dengan kertas-kertas di map tebal. Ia melihat ibunya. Wajahnya lelah, tapi tetap diam. Ia menatap Mas Gayuh, berdiri, memandang keluar yang semakin dingin dan gelap. 

”Mas…” suaranya pelan. 

”Iya.” 

Gendis yang setengah sadar menatap garis itu. ”Kalau garisnya sudah penuh…kita pindah, ya?” Kini, Gendis sempurna jatuh dalam lelapnya.  

Gayuh membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar. Hanya sayup-sayup bunyi air yang menjawab, membawa gelombang nestapa. Ia membaca beberapa kalimat terakhir di buku catatan Gendis. 

Besok aku mau ziarah ke makam bapak. Tapi banjir. Pasti makam bapak tenggelam.

Bogor, 1 April 2026 

Muhammad Fariz Ardan Fitriansyah, Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada dan pernah belajar menulis di BPPM Balairung UGM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UNGGULAN

Gendis Menulis

Gendis Menulis Oleh  Muhammad Fariz Ardan Fitriansyah Di bawah rembulan yang nampak cerah dan penuh, Gendis masih berkutat menyelesaikan tug...