Kamis, 20 Agustus 2026

Gerbang Rumah Tua

Gerbang Rumah Tua
Karya Luh Arik Sariadi

Cukup lama aku menantimu
di balik kaca datar yang buram
aku melihat udara bercampur air
segera membawa badai hatiku

Sudah sangat lama lapar ini
bisakah kata-kata bikin kenyang
sementara massa sudah berteriak
samar antara girang atau garang

di gerbang rumah tua
sisa kain demonstrasi 
di pasang berwarna warni
memanggilmu kembali untukku

jelas, kaulah berjanji bertemu
menipu pemuda seperti aku
aku hanya menunggu
dengan dungu di siku kaki
yang terhimpit sampai pagi

Selasa, 18 Agustus 2026

Sastrawan, Karya, dan Jaminan Hidup di Hari Tua

Sastrawan, Karya, dan Jaminan Hidup di Hari Tua

Oleh Muhammad Subhan

TAK ada orang yang ingin sakit. Kalau bisa, sehat terus. Tapi tubuh tak bisa diajak kompromi. Kalau waktunya tiba, badan yang sakit harus mendapat tempat perawatan—entah di rumah, entah di rumah sakit.

Soal usia tak jadi masalah. Anak kecil juga tak sedikit yang sakit. Tidak harus menunggu tua untuk jatuh sakit. Ini hanya urusan waktu dan daya tahan tubuh. Selain itu, urusan pola serta gaya hidup turut memengaruhi kesehatan.

Namun, bagi sebagian sastrawan, sakit pada usia tua bukan sekadar persoalan kesehatan. Ada persoalan lain yang sering datang bersamaan: biaya pengobatan, kebutuhan hidup sehari-hari, dan ketidakpastian dari mana uang untuk membayar semuanya.

Ketika orang terkenal sakit—sastrawan salah satunya—biasanya hal itu mengundang gelombang reaksi publik, terutama dari orang-orang yang mengenalnya, baik sebagai kawan, pembaca, maupun relasi. Bantuan pun berdatangan. Ada yang menggalang donasi, mengirimkan sejumlah uang, membiayai pengobatan, atau sekadar menyebarkan kabar melalui media sosial.

Tapi kita perlu bertanya lebih jauh: apakah nasib seorang sastrawan memang harus bergantung pada kedermawanan publik ketika ia sakit?

Pertanyaan ini penting karena tidak semua sastrawan memiliki kondisi ekonomi yang sama. Sastrawan yang telah mapan—memiliki pekerjaan tetap, tabungan, aset, royalti yang cukup, atau perlindungan kesehatan—tentu mempunyai pilihan lebih banyak ketika menghadapi penyakit. Persoalannya adalah mereka yang sepanjang hidupnya menulis, menerbitkan buku, menghidupkan komunitas, mengajar, dan merawat kebudayaan, tapi memasuki usia senja tanpa jaminan ekonomi yang memadai.

Dalam situasi seperti itu, sakit menjadi persoalan yang jauh lebih berat.

Liputan mendalam Harian Kompas melalui laporan khusus bertajuk “Suara Tak Terdengar: Mengapa Nasib Sastrawan Harus Diperjuangkan?” (Kompas, 26 Mei 2025) memperlihatkan ironi tersebut: sastrawan kerap dipandang sebagai penjaga kebudayaan, tapi sebagian di antaranya justru menghadapi persoalan kesejahteraan ketika memasuki masa tua. Pendapatan dari buku dan honor menulis tidak selalu cukup untuk menjadi sandaran hidup. Sebagian bahkan harus menjalani pekerjaan lain agar tetap bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

Di sinilah kita perlu membedakan antara kemuliaan profesi dan kesejahteraan orang yang menjalani profesi itu.

Menulis sastra memang panggilan jiwa. Tapi panggilan jiwa tidak berarti kebutuhan hidup harus diabaikan, dan menghargai kesejahteraan sastrawan sama sekali tidak merendahkan nilai idealisme seni. Sastrawan tetaplah manusia. Ia membutuhkan makanan, tempat tinggal, biaya pendidikan anak, jaminan kesehatan, dan ketika tua, membutuhkan biaya perawatan sebagaimana orang lain.

Persoalan ini tidak bisa semata-mata dibebankan kepada pemerintah. Negara memang memiliki tanggung jawab membangun ekosistem kebudayaan yang sehat, tapi masyarakat sastra, penerbit, organisasi profesi, lembaga kebudayaan, dan dunia usaha juga memiliki ruang untuk mengambil bagian.

Solusinya harus dibangun sejak sastrawan masih produktif, bukan ketika tubuh mereka sudah terbaring lemah di rumah sakit.

Langkah mendasar yang harus diwujudkan adalah skema jaminan sosial dan perlindungan kesehatan yang mudah diakses oleh pekerja seni dan sastra. Pendataan sastrawan yang aktif berkarya dapat menjadi langkah awal. Ini bukan untuk menciptakan keistimewaan eksklusif (privilese), melainkan untuk memastikan bahwa pekerja kebudayaan, sebagaimana pekerja mandiri dan informal lainnya, tidak tercecer dari sistem perlindungan sosial nasional.

Sejalan dengan itu, ekosistem penerbitan juga harus dibenahi agar lebih adil. Kontrak penerbitan perlu dibuat transparan, perhitungan royalti harus dapat dipertanggungjawabkan, dan hak cipta wajib dihormati. Pembajakan buku, baik dalam bentuk fisik maupun digital, harus terus diperangi secara konsisten. Ketika karya seorang sastrawan menghasilkan keuntungan ekonomi, penciptanya semestinya memperoleh bagian yang layak dan proporsional.

Namun, pembenahan sistem tak akan maksimal tanpa penguatan kapasitas sastrawan itu sendiri dalam literasi hak cipta, tata kelola kontrak, royalti, dan manajemen keuangan. Tidak cukup bagi seorang pengarang hanya pandai menulis; mereka juga perlu memahami bagaimana karya-karyanya dikelola secara ekonomi. Di sinilah organisasi profesi dan komunitas sastra dapat mengambil peran strategis untuk memberikan pendampingan hukum serta edukasi ekonomi kreatif.

Selain itu, perlu dipikirkan pula pembentukan dana solidaritas atau dana abadi kebudayaan yang memiliki mekanisme jelas untuk membantu sastrawan dalam kondisi darurat, termasuk saat menghadapi penyakit berat dan lansia. Tata kelola dana ini harus transparan, memiliki kriteria penerima yang terang, serta terbuka untuk diaudit. Dengan demikian, penanganan kondisi darurat tidak lagi bergantung pada sekadar viral atau tidaknya kabar seorang sastrawan di media sosial.

Donasi publik tetap penting. Bahkan dalam banyak keadaan, donasi menjadi bentuk solidaritas kemanusiaan yang sangat berarti. Yang perlu dikritisi bukan aksi donasinya, melainkan keadaan ketika donasi justru dijadikan satu-satunya sistem penyelamatan.

Sebab, jangan sampai masyarakat baru ramai mengingat seorang sastrawan setelah ia jatuh sakit. Jangan sampai karya-karyanya dipuji ketika tubuhnya sudah lemah, sementara sepanjang masa produktifnya ia dibiarkan berjuang sendirian.

Penghormatan kepada sastrawan seharusnya tidak berhenti pada undangan membaca puisi, pemberian penghargaan, atau seremoni kebudayaan semata. Penghormatan yang nyata berarti menciptakan ekosistem yang memungkinkan mereka hidup layak dari kerja kebudayaannya.

Kita tidak sedang meminta semua sastrawan menjadi kaya raya. Itu bukan ukuran keberhasilan sastra. Yang dibutuhkan adalah kehidupan yang layak, perlindungan ketika menghadapi risiko hidup, dan martabat ketika memasuki usia senja.

Sastrawan boleh hidup sederhana. Tapi jangan sampai kesederhanaan itu berubah menjadi keterlantaran.

Dan jangan menunggu seorang sastrawan sakit untuk kemudian mengingat bahwa selama puluhan tahun ia telah menjaga ingatan, bahasa, imajinasi, dan kebudayaan bangsa.

Kita mafhum bahwa kebudayaan yang besar tidak hanya diukur dari seberapa banyak karya adiluhung yang dilahirkan, tapi juga dari seberapa manusiawi bangsa itu merawat para kreatornya. Membiarkan para penjaga ketahanan ingatan bangsa ini merana pada masa tua adalah sebuah kebangkrutan moral dalam berbudaya. Kita tidak bisa terus-menerus memetik buah pikiran mereka tanpa peduli pada akar yang memberi kehidupan pada buah tersebut.

Saatnya kita beranjak dari romantisme semu yang mengagungkan “seniman menderita” sebagai syarat keindahan karya. Kesejahteraan dan idealisme tidak boleh dipertentangkan; keduanya harus berjalan beriringan agar ekosistem kebudayaan kita tetap berkelanjutan. Keberlanjutan itu hanya bisa terwujud jika ada sistem dan komitmen nyata yang melindungi para pekerja budaya sepanjang hayat mereka.

Memperjuangkan jaminan hidup yang bermartabat bagi sastrawan bukanlah tindakan belas kasihan, sebaliknya sebuah bentuk investasi kebudayaan. Ketika para sastrawan dapat terus berkarya tanpa terhantui ketakutan akan keterlantaran di hari tua, di situlah peradaban sebuah bangsa sedang menegakkan martabatnya sendiri di hadapan masa depan. (MUHAMMAD SUBHAN)

Sumber : https://www.facebook.com/share/1C3auDtyTs/

Selasa, 04 Agustus 2026

Cut, cut, cut!

Cut, cut, cut!
Karya Luh Arik Sariadi

Sehabis banjir besar meluap di pusat kota, bendera, baliho, dan selebaran berserakan. Sisa-sisa warna masih tampak walaupun simbol-simbol partai politik itu terombang-ambing oleh air bah. Beberapa desa disapu angin besar dengan curah hujan yang sangat tinggi sehingga banyak warga golput dalam pemilihan presiden. Puing-puing kayu ringsek di pasar kota. Orang-orang masih enggan keluar rumah karena sibuk membersihkan rumah yang direndam air sejak musim kampanye.  
Gede Merta masih sangat sedih, bahkan tenggelam bersama baliho-baliho yang berisi fotonya. Ia pun belum berani keluar rumah. Teramat sedih.

*** 
Orang-orang masih bertepuk tangan ketika ia menundukkan kepala di atas panggung. Kamera berkedip seperti hujan cahaya. Ribuan pendukung meneriakkan namanya, mengangkat spanduk, dan menganggap pidato itu sebagai keberanian seorang calon presiden yang berpihak kepada rakyat kecil.
"Adakah Gede Merta dihatimu?" kata seorang juru kampanye di atas panggung. Hujan rintik-rintik selama beberapa hari telah membuat taman kota tergenang semata kaki.
"Ada, ada, ada!" begitu para simpatisan memberi dukungan kepada Gede Merta yang telah membagikan visi dan misinya sebagai presiden. 
Sebagai tokoh dari kota kecil, mendapat simpatisan yang begitu bersemangat membuatnya lebih bersemangat lagi.
Namun, di balik senyum yang dipaksakan, ia justru melihat satu wajah. Wajah Gede Raga.

Ia tidak mengenang Gede Raga sebagai korban. Tidak pula sebagai pencuri ayam. Ia mengingatnya sebagai orang yang telah menyeretnya ke jurang penyesalan yang tak mungkin dipanjat kembali. Ini hari terakhirnya kampanye, kemenangan selalu menjadi rahasia yang belum bisa diprediksi.
"Seandainya aku tidak melakukan panggilan video dan mempunlikasikannya," gumamnya.
Tepuk tangan semakin keras ketika juru kampanye memetikkan yel yang lebih bersemangat di tengah hujan yang semakin deras.
Penyesalannya semakin membuatnya ketakutan. Dua hari lagi, pemilu akan berlangsung. Keraguannya untuk menang semakin tebal. Ia justru merasa tepuk tangan orang-orang yang diguyur hujan turut menghanyutkan suara dukungan untuknya. 

***
Tiga bulan sebelumnya, seluruh negeri diguncang sebuah video tidak berprikemanusiaan. Seorang pria bernama Gede Raga dituduh mencuri ayam milik warga desa. Ia tertangkap. Massa menghakimi tanpa memberi kesempatan menjelaskan. Dalam hitungan menit, amarah berubah menjadi pengeroyokan. Ketika polisi datang, tubuh Gede Raga telah tergeletak tanpa nyawa.

Media menyiarkannya tanpa henti. Tagar keadilan memenuhi media sosial. Tagar pencurian ikut bersaing menyita perhatian publik. Tagar-tagar lain pun semakin viral. 

Semua kandidat politik berlomba mengomentari tragedi itu. Calon presiden bernama Gede Merta melihat peluang yang tak boleh dilewatkan. Tim medianya menyebut tragedi itu sebagai momentum.
"Rakyat sedang marah. Kita harus hadir lebih dulu daripada lawan politik."

Gede Merta mengangguk. Ia segera melakukan panggilan video dengan istri pencuri ayam. Gede Merta mengutus orang berangkat ke rumah duka dengan membawa karangan bunga bertuliskan, "Dari Gede Merta, pembela rakyat".

Di depan kamera panggilan, ia tunjukkan simpati bahkan ketika istri dan anak pencuri menangis, ia ikut menangis dan  berjanji memperjuangkan keadilan. Melalui sosial medianya sendiri dan sosial media para pengikutnya, bahkan para influencer bayaran, video percakapannya dengan istri pencuri ayam diviralkan.

Percakapan dalam panggilan video itu viral. Rating elektabilitasnya naik. Komentator menyebutnya pemimpin yang berempati.
Tak seorang pun tahu bahwa beberapa minggu sebelumnya Gede Merta pernah dipermalukan oleh orang yang sama ketika melakukan lawatan ke sebuah desa kecil untuk bagi-bagi uang.

***
Saat melakukan safari politik, Gede Merta memilih berjalan kaki agar terlihat dekat dengan rakyat. Di pinggir jalan ia bertemu seorang pria lusuh yang mengaku peternakannya baru saja bangkrut.
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Gede Raga. Matanya tampak sayu. Pakaiannya compang-camping. Saat itu, ia meminta semua orang mempersiapkan alat syuting. Kamera yang bagus dikeluarkan. Reka adegang coba dijelaskan dan diperagakan oleh sutradara yang ditunjuk sebagai ketua tim kreatif. 
"Ayam saya tinggal satu, Pak. Kalau ayam ini mati, habislah keluarga saya."
"Cut, cut, cut! Coba tunjukkan wajah memelas lebih dalam!" kata sutradara.

Setalah adegan diulang-ulang, Gede Merta semakin iba bukan karena ia menjadi konten kreator, tetapi sebagai seorang manusia biasa yang latah ikut-ikutan bersedih.

Tanpa berpikir panjang ia menyerahkan sejumlah uang tunai. Gede Raga berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Video itu dipublikasi setelah diedit oleh timnya. Video itu langsung mendapat perhatian dan kembali viral. Banyak orang semakin mengenal sosok Gede Merta sebagai orang yang dermawan.

Gede Merta ingin mengucapkan terima kasih kepada orang itu, tetapi ia sulit dihubungi bahkan alamat yang diberikan pun palsu. Pria itu lenyap seperti dilumat oleh kawah Gunung Agung. Tidak ada jejak. Saking iba, Gede Mert mengerahkan banyak untuk membantu pria itu.
Informan memberi tahu bahwa Gede Raga bukan peternak miskin. Ia terkenal sebagai pencuri ayam keliling yang lihai memainkan belas kasihan orang. Pria itu konon katanya memiliki pelet.
Berita itu sengaja disembunyikan tim sukses agar tidak merusak citra Gede Merta.
"Anggap saja sedekah," kata salah seorang staf.

Gede Merta menahan malu dan memecat tim kreatif yang ikut dalam produksi kontennya. Bahkan, Gede Merta meminta antek-anteknya, melenyapkan timnya dari muka bumi. Ia merasa telah dibohongi. Video itu dibiarkan mendapat jam tayang untuk menghasilkan uang sebagai kontwn kreator. Bahkan ia telah lupa dengan konten-konten yang dibuatnya. 
***
Beberapa tahun kemudian, video pengeroyokan Gede Raga meledak. Gede Merta marah. Bukan karena pernah ditipu melainkan karena tidak seorang pun pantas kehilangan nyawa akibat tuduhan mencuri seekor ayam.

Meski demikian, sebagian anggota tim sukses memandang peristiwa itu dari sudut yang berbeda.
"Pak, ini kesempatan emas."
"Maksudmu?"
"Bela keluarganya. Publik akan melihat Bapak sebagai pelindung wong cilik."

Gede Merta terdiam. Ia tahu saran itu dingin tetapi ia mengiyakan. Ia mengutus orng mendatangi rumah duka. Ia menangis di depan kamera. Ia menyebut Gede Raga sebagai simbol ketidakadilan. Setiap kalimatnya disambut jutaan tayangan yang dibagikan oleh para simpatisan. Elektabilitasnya naik.

Gede Merta tenggelam dalam kebahagiaan dan yakin akan memenangkan hati rakyat. 

Beberapa hari menjelang pencoblosan, penyelidikan polisi mengungkap fakta yang lebih rumit. Gede Raga memang beberapa kali terlibat pencurian ayam di sejumlah desa, bahkan beberapa korban mengenal wajahnya. 
Namun, temuan itu tidak mengubah satu hal penting. Tak seorang pun berhak menghakimi hingga menghilangkan nyawa seseorang. Negara memiliki hukum.

Saat membaca laporan lengkap penyelidikan itulah Gede Raka merasa sesak. Ia sadar dirinya telah membela keluarga korban dengan niat yang bercampur taktik dan strategi.
Massa mengkritiknya. Suara terbelah saat kampanye terakhirnya. 

Ada empati tetapi ada pula hitung-hitungan politik. Ia memang ingin keadilan ditegakkan. Namun, ia juga membiarkan tragedi itu menjadi panggung. Kesedihan orang lain telah berubah menjadi bahan kampanye.
Sejak hari itu setiap kali melihat foto Gede Raga, ia tidak lagi memikirkan uang yang pernah dicuri darinya. Ia memikirkan bagaimana ambisi politik dapat membuat seseorang lupa memeriksa isi hatinya sendiri.

---

Kini, menjelang hari pemungutan suara, sorak-sorai terus menggema. Pendukung masih menganggap pidatonya luar biasa. Media masih membahas kenaikan popularitasnya. Namun,  Gede Merta tahu ada satu suara yang tak pernah bisa dikalahkan oleh tepuk tangan, yaitu suara hati.
Ia menatap ribuan wajah di hadapannya.
Lalu berkata pelan, nyaris tak terdengar mikrofon.
"Jangan pernah menjadikan penderitaan manusia sebagai tangga menuju kekuasaan. Sebab ketika kita berhasil sampai di puncak, bisa jadi yang menunggu hanyalah penyesalan."
***
Di luar rumah, angin membawa debu dari jalan desa yang pernah dilalui Gede Merta. Ia memutar kembali 2 konten yang dibuatnya tentang Gede Raga. Suara ricik air di sebelah rumah mengalir di parit-parit yang tersumbat. Darahnya turut tersumbat. Otaknya tidak mampu menerima kekalahan itu.  
"Cut, cut, cut!" kata seorang Sutradara.
Satu-satunya jalan untuk bertahan hidup setelah gagal terpilih menjadi presiden adalah menjadi konten kreator. Itu jauh lebih mudah dilakukan oleh Gede Merta.


UNGGULAN

Adaninggar Kelaswara

Adaninggar Kelaswara Keindahan, kata kakekku, adalah bagaimana kesenian bisa menyentuh perasaan sehingga orang merasa bisa berdamai dengan l...