Selasa, 04 Agustus 2026

Cut, cut, cut!

Cut, cut, cut!
Karya Luh Arik Sariadi

Sehabis banjir besar meluap di pusat kota, bendera, baliho, dan selebaran berserakan. Sisa-sisa warna masih tampak walaupun simbol-simbol partai politik itu terombang-ambing oleh air bah. Beberapa desa disapu angin besar dengan curah hujan yang sangat tinggi sehingga banyak warga golput dalam pemilihan presiden. Puing-puing kayu ringsek di pasar kota. Orang-orang masih enggan keluar rumah karena sibuk membersihkan rumah yang direndam air sejak musim kampanye.  
Gede Merta masih sangat sedih, bahkan tenggelam bersama baliho-baliho yang berisi fotonya. Ia pun belum berani keluar rumah. Teramat sedih.

*** 
Orang-orang masih bertepuk tangan ketika ia menundukkan kepala di atas panggung. Kamera berkedip seperti hujan cahaya. Ribuan pendukung meneriakkan namanya, mengangkat spanduk, dan menganggap pidato itu sebagai keberanian seorang calon presiden yang berpihak kepada rakyat kecil.
"Adakah Gede Merta dihatimu?" kata seorang juru kampanye di atas panggung. Hujan rintik-rintik selama beberapa hari telah membuat taman kota tergenang semata kaki.
"Ada, ada, ada!" begitu para simpatisan memberi dukungan kepada Gede Merta yang telah membagikan visi dan misinya sebagai presiden. 
Sebagai tokoh dari kota kecil, mendapat simpatisan yang begitu bersemangat membuatnya lebih bersemangat lagi.
Namun, di balik senyum yang dipaksakan, ia justru melihat satu wajah. Wajah Gede Raga.

Ia tidak mengenang Gede Raga sebagai korban. Tidak pula sebagai pencuri ayam. Ia mengingatnya sebagai orang yang telah menyeretnya ke jurang penyesalan yang tak mungkin dipanjat kembali. Ini hari terakhirnya kampanye, kemenangan selalu menjadi rahasia yang belum bisa diprediksi.
"Seandainya aku tidak melakukan panggilan video dan mempunlikasikannya," gumamnya.
Tepuk tangan semakin keras ketika juru kampanye memetikkan yel yang lebih bersemangat di tengah hujan yang semakin deras.
Penyesalannya semakin membuatnya ketakutan. Dua hari lagi, pemilu akan berlangsung. Keraguannya untuk menang semakin tebal. Ia justru merasa tepuk tangan orang-orang yang diguyur hujan turut menghanyutkan suara dukungan untuknya. 

***
Tiga bulan sebelumnya, seluruh negeri diguncang sebuah video tidak berprikemanusiaan. Seorang pria bernama Gede Raga dituduh mencuri ayam milik warga desa. Ia tertangkap. Massa menghakimi tanpa memberi kesempatan menjelaskan. Dalam hitungan menit, amarah berubah menjadi pengeroyokan. Ketika polisi datang, tubuh Gede Raga telah tergeletak tanpa nyawa.

Media menyiarkannya tanpa henti. Tagar keadilan memenuhi media sosial. Tagar pencurian ikut bersaing menyita perhatian publik. Tagar-tagar lain pun semakin viral. 

Semua kandidat politik berlomba mengomentari tragedi itu. Calon presiden bernama Gede Merta melihat peluang yang tak boleh dilewatkan. Tim medianya menyebut tragedi itu sebagai momentum.
"Rakyat sedang marah. Kita harus hadir lebih dulu daripada lawan politik."

Gede Merta mengangguk. Ia segera melakukan panggilan video dengan istri pencuri ayam. Gede Merta mengutus orang berangkat ke rumah duka dengan membawa karangan bunga bertuliskan, "Dari Gede Merta, pembela rakyat".

Di depan kamera panggilan, ia tunjukkan simpati bahkan ketika istri dan anak pencuri menangis, ia ikut menangis dan  berjanji memperjuangkan keadilan. Melalui sosial medianya sendiri dan sosial media para pengikutnya, bahkan para influencer bayaran, video percakapannya dengan istri pencuri ayam diviralkan.

Percakapan dalam panggilan video itu viral. Rating elektabilitasnya naik. Komentator menyebutnya pemimpin yang berempati.
Tak seorang pun tahu bahwa beberapa minggu sebelumnya Gede Merta pernah dipermalukan oleh orang yang sama ketika melakukan lawatan ke sebuah desa kecil untuk bagi-bagi uang.

***
Saat melakukan safari politik, Gede Merta memilih berjalan kaki agar terlihat dekat dengan rakyat. Di pinggir jalan ia bertemu seorang pria lusuh yang mengaku peternakannya baru saja bangkrut.
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Gede Raga. Matanya tampak sayu. Pakaiannya compang-camping. Saat itu, ia meminta semua orang mempersiapkan alat syuting. Kamera yang bagus dikeluarkan. Reka adegang coba dijelaskan dan diperagakan oleh sutradara yang ditunjuk sebagai ketua tim kreatif. 
"Ayam saya tinggal satu, Pak. Kalau ayam ini mati, habislah keluarga saya."
"Cut, cut, cut! Coba tunjukkan wajah memelas lebih dalam!" kata sutradara.

Setalah adegan diulang-ulang, Gede Merta semakin iba bukan karena ia menjadi konten kreator, tetapi sebagai seorang manusia biasa yang latah ikut-ikutan bersedih.

Tanpa berpikir panjang ia menyerahkan sejumlah uang tunai. Gede Raga berkali-kali mengucapkan terima kasih.

Video itu dipublikasi setelah diedit oleh timnya. Video itu langsung mendapat perhatian dan kembali viral. Banyak orang semakin mengenal sosok Gede Merta sebagai orang yang dermawan.

Gede Merta ingin mengucapkan terima kasih kepada orang itu, tetapi ia sulit dihubungi bahkan alamat yang diberikan pun palsu. Pria itu lenyap seperti dilumat oleh kawah Gunung Agung. Tidak ada jejak. Saking iba, Gede Mert mengerahkan banyak untuk membantu pria itu.
Informan memberi tahu bahwa Gede Raga bukan peternak miskin. Ia terkenal sebagai pencuri ayam keliling yang lihai memainkan belas kasihan orang. Pria itu konon katanya memiliki pelet.
Berita itu sengaja disembunyikan tim sukses agar tidak merusak citra Gede Merta.
"Anggap saja sedekah," kata salah seorang staf.

Gede Merta menahan malu dan memecat tim kreatif yang ikut dalam produksi kontennya. Bahkan, Gede Merta meminta antek-anteknya, melenyapkan timnya dari muka bumi. Ia merasa telah dibohongi. Video itu dibiarkan mendapat jam tayang untuk menghasilkan uang sebagai kontwn kreator. Bahkan ia telah lupa dengan konten-konten yang dibuatnya. 
***
Beberapa tahun kemudian, video pengeroyokan Gede Raga meledak. Gede Merta marah. Bukan karena pernah ditipu melainkan karena tidak seorang pun pantas kehilangan nyawa akibat tuduhan mencuri seekor ayam.

Meski demikian, sebagian anggota tim sukses memandang peristiwa itu dari sudut yang berbeda.
"Pak, ini kesempatan emas."
"Maksudmu?"
"Bela keluarganya. Publik akan melihat Bapak sebagai pelindung wong cilik."

Gede Merta terdiam. Ia tahu saran itu dingin tetapi ia mengiyakan. Ia mengutus orng mendatangi rumah duka. Ia menangis di depan kamera. Ia menyebut Gede Raga sebagai simbol ketidakadilan. Setiap kalimatnya disambut jutaan tayangan yang dibagikan oleh para simpatisan. Elektabilitasnya naik.

Gede Merta tenggelam dalam kebahagiaan dan yakin akan memenangkan hati rakyat. 

Beberapa hari menjelang pencoblosan, penyelidikan polisi mengungkap fakta yang lebih rumit. Gede Raga memang beberapa kali terlibat pencurian ayam di sejumlah desa, bahkan beberapa korban mengenal wajahnya. 
Namun, temuan itu tidak mengubah satu hal penting. Tak seorang pun berhak menghakimi hingga menghilangkan nyawa seseorang. Negara memiliki hukum.

Saat membaca laporan lengkap penyelidikan itulah Gede Raka merasa sesak. Ia sadar dirinya telah membela keluarga korban dengan niat yang bercampur taktik dan strategi.
Massa mengkritiknya. Suara terbelah saat kampanye terakhirnya. 

Ada empati tetapi ada pula hitung-hitungan politik. Ia memang ingin keadilan ditegakkan. Namun, ia juga membiarkan tragedi itu menjadi panggung. Kesedihan orang lain telah berubah menjadi bahan kampanye.
Sejak hari itu setiap kali melihat foto Gede Raga, ia tidak lagi memikirkan uang yang pernah dicuri darinya. Ia memikirkan bagaimana ambisi politik dapat membuat seseorang lupa memeriksa isi hatinya sendiri.

---

Kini, menjelang hari pemungutan suara, sorak-sorai terus menggema. Pendukung masih menganggap pidatonya luar biasa. Media masih membahas kenaikan popularitasnya. Namun,  Gede Merta tahu ada satu suara yang tak pernah bisa dikalahkan oleh tepuk tangan, yaitu suara hati.
Ia menatap ribuan wajah di hadapannya.
Lalu berkata pelan, nyaris tak terdengar mikrofon.
"Jangan pernah menjadikan penderitaan manusia sebagai tangga menuju kekuasaan. Sebab ketika kita berhasil sampai di puncak, bisa jadi yang menunggu hanyalah penyesalan."
***
Di luar rumah, angin membawa debu dari jalan desa yang pernah dilalui Gede Merta. Ia memutar kembali 2 konten yang dibuatnya tentang Gede Raga. Suara ricik air di sebelah rumah mengalir di parit-parit yang tersumbat. Darahnya turut tersumbat. Otaknya tidak mampu menerima kekalahan itu.  
"Cut, cut, cut!" kata seorang Sutradara.
Satu-satunya jalan untuk bertahan hidup setelah gagal terpilih menjadi presiden adalah menjadi konten kreator. Itu jauh lebih mudah dilakukan oleh Gede Merta.


UNGGULAN

Cut, cut, cut!

Cut, cut, cut! Karya Luh Arik Sariadi Sehabis banjir besar meluap di pusat kota, bendera, baliho, dan selebaran berserakan. Sisa-sisa warna ...