Bukan Pecundang
Oleh Luh Arik Sariadi
Aku harus mencari Suar. Aku yakin ia bukan pecundang yang melompat dari atas jembatan yang baru selesai dibuat. Belakangan ini, kota dihebohkan dengan hilangnya pelajar secara beriringan. Lantas, beberapa dari mereka ditemukan di bawah jembatan Bangkung dalam kondisi mengenaskan.
Aku memasuki gang-gang kecil yang ada di sekitar rumah, Suar. Bersama ibunya yang sudah menjanda, aku berjalan memeriksa setiap celah yang memungkinkan Suar bersembunyi. Sebagai wali kelasnya, aku berkewajiban ikut mencari Suar karena hari Senin, Suar harus mengikuti ujian kompetensi minimum. Dalam simulasi ujian, ia tidak hadir. Ibunya tidak tahu kemana Suar beberapa hari ini.
"Maaf, Bu. Ibu jadi repot nyari anak saya, maklum saya tidak punya suami untuk diajak mencari Suar," kata berulang di sepanjang perjalanan kaki kami.
Aku mencoba meyakinkan bahwa pencarian ini adalah tugas wali kelas juga.
"Istirahat dulu, Bu. Kita sudah berkeliling kota mencari Suar, saya yakin Ibu lelah," katanya sambil mengusap keringat yang menetes dari pelipisnya.
Sebagai seorang guru aku siap mencari murid sampai ketemu dan memastikan murid itu tidak putus sekolah.
"Berhenti saja, Bu!Kita sudah mencarinya selama beberapa hari. Kalau dia mau pulang, pasti akan pulang sendiri," kata ibu Suar.
Aku susah mikir, seorang ibu yang kehilangan anak dengan mudahnya menyerah. Sementara, aku susah membayangkan kondisi Suar seperti apa?
***
Hujan turun selama empat hari berturut-turut di kota kecil itu. Air mengalir deras dari lereng, desa-dasa di hulu menuju ke kota melalui selokan yang meluap, membawa daun-daun nangka, ranting bambu, dan lumpur dari jalan tanah yang mulai rusak. Orang-orang lebih banyak tinggal di rumah. Anak-anak sekolah datang dengan sandal basah dan celana yang digulung sampai lutut. Aturan berpakaian sekolah tidak bisa ditegakkan lagi sebab baju-baju mereka mungkin terseret banjir.
Banjir sudah surut. Rumah-rumah sudah mulai dibersihkan. Sekolah juga sudah dibuka lagi untuk belajar. Pada hari Senin itu, nama Suar dipanggil saat absensi.
“Tidak hadir,” jawab ketua kelas pelan.
Tak ada yang merasa aneh. Suar memang bukan anak yang menonjol. Nilainya biasa saja. Ia tidak pernah membuat keributan, tetapi juga tidak terlalu banyak bicara. Di kelas, Suar seperti bayangan tipis yang sering luput diperhatikan. Rambutnya selalu diikat seadanya, dan sepatunya sering masih basah karena ia berjalan kaki cukup jauh menuju sekolah. Tidak seperti anak lainnya yang diantar dan dijemput oleh orangtuanya.
Hari Selasa, Suar tetap tidak datang.
Hari Rabu, kursinya masih kosong.
Guru wali kelas mulai bertanya kepada teman-temannya, tetapi tidak ada yang tahu ke mana Suar pergi. Beberapa teman hanya mengatakan bahwa Suar akhir-akhir ini sering melamun sambil membaca berita banjir dari kota lain melalui komputer sekolah yang ada di perpustakaan.
Sebagai wali kelasnya, aku datang ke rumah Suar. Di rumah kecil beratap seng itu, ibu Suar mulai gelisah.
“Jangan-jangan dia kabur,” katanya kepadaku sambil memeras kain pel. “Anak sekarang macam-macam.” tambahnya.
Ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah keluarga kaya di kota kecamatan. Karena banjir merendam rumah majikannya selama beberapa hari, ia hampir tidak pernah pulang. Ia tidur di gudang belakang rumah besar itu demi membersihkan air lumpur setiap malam.
“Memang Suar punya pacar?” tanyaku.
Ibunya diam sesaat.
“Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat dadaku semakin sesak.
Sembari mempersilakan duduk di sebuah kursi kayu yang basah, ibu Suar bercerita bahwa selama ini ia merasa tidak pernah benar-benar mengenal anaknya sendiri. Suar tumbuh pendiam. Sejak kecil, ia lebih sering menulis di buku lusuh daripada bermain dengan anak-anak lain. Kadang-kadang ibunya melihat Suar menempel guntingan koran tentang bencana alam di dinding kamarnya.
Namun, karena lelah bekerja, ibunya tak pernah banyak bertanya.
Kabar hilangnya Suar mulai menyebar ke sekolah dan ke warung-warung kecil di kelurahan itu. Ada yang bilang ia kawin lari dengan sopir truk dari kota. Ada yang bilang ia ikut orang asing. Bahkan beberapa ibu mulai menghubungkan hilangnya Suar dengan cerita mistis tentang perempuan muda yang dibawa hujan. Bahkan, ada yang bilang kemungkinan Suar menjatuhkan diri di jembatan karena tidak siap mengikuti ujian AKM. Tetangganya maklum Suar punya ketakutan yang berlebihan karena ia tidak pernah ikut les atau bimbingan belajar.
Ibunya makin takut.
Hari ketika aku berkunjung ke rumah Suar adalah hari pertama ibu Suar menginjakkan kaki setelah banjir menggenangi beberapa rumah elit di dataran rendah. Setelah hujan sedikit reda, ibu Suar pulang ke rumah untuk mengambil pakaian bersih dan bergegas ke rumah majikannya. Rumah mereka gelap karena tidak punya aliran listrik tetapi rumah mereka tidak tenggelam oleh banjir karena berada di gang kecil yang agak menanjak di belakang sebuah bank swasta.
Bau kayu basah memenuhi ruangan. Ia membuka pintu kamar Suar perlahan. Ranjang anak itu masih rapi dan hanya sedikit lembab. Tak ada pakaian yang hilang banyak. Hanya tas punggung abu-abu yang biasa dipakai Suar saat sekolah.
Ibunya duduk lemas di lantai. Pandangannya jatuh pada meja kecil di dekat jendela. Di sana ada sebuah amplop yang sudah sedikit lembap karena udara hujan. Bersamaku, ibu Suar membuka perlahan surat itu.
Di atasnya tertulis:
Ibu.
Tangannya gemetar saat membuka surat itu. Tulisan Suar miring ke kanan dan kecil-kecil.
Ibu, maaf aku pergi tanpa bilang langsung. Aku ikut menjadi relawan banjir di Kota Denpasar bersama kakak-kakak komunitas perpustakaan. Mereka kekurangan tenaga untuk memasak dan menjaga anak-anak di pengungsian.
Aku akan pulang setelah keadaan membaik.
Ibunya membaca surat itu berulang kali sampai matanya kabur oleh air mata. Aku pun yang membacanya ikut menangis terharu.
Di luar, hujan kembali turun perlahan.
Tiba-tiba aku merasa sangat malu pada pikiranku sendiri yang dicampur pemikiran orang lain. Selama berhari-hari aku sibuk curiga bahwa anaknya membawa aib. Aku membayangkan Suar kawin lari, meninggalkan rumah demi lelaki yang bahkan tidak pernah ia kenal. Padahal anak itu pergi untuk menolong orang lain.
Ibunya menatap kamar sempit itu lebih lama. Baru kali ini ia menyadari banyak hal kecil tentang Suar. Ada buku catatan berisi daftar kebutuhan pengungsi. Ada gambar anak-anak kecil memakai jas hujan.
***
Truk besar mencoba menerobos sekolah. Di dalam bak truk, ada banyak orang yang riuh memetikkan yel-yel. Satpam menghentikannya. Kami para guru keluar dari ruangan untuk mengecek situasi. Ibu Suar pun ikut keluar ketika dari atas truk muncul seorang anak yang mulai dikenalinya.
"Suar!" teriak ibunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar