Mengapa perbedaan harga sepatu di pasar bisa sangat jauh meskipun modelnya sama?
Bagaimana penjual menentukan harga awal sepatu sebelum ditawar?
Bagaimana pengaruh harga jual terhadap kualitas sepatu?
Mengapa pembeli sering menilai harga tidak sebanding dengan kualitas?
Mengapa penawaran yang terlalu rendah sangat memengaruhi keberlangsungan usaha penjual?
Bagaimana penjual menyeimbangkan keuntungan dan kepuasan pembeli?
Mengapa negosiasi bisa berubah dari wajar menjadi tidak etis?
Mengapa transparansi asal dan bahan sepatu penting dalam negosiasi?
Bagaimana kekuatan tawar pembeli dan penjual bisa berubah selama proses negosiasi?
Mengapa pembeli yang terlalu fokus dengan pada harga murah sering mendapatkan sepatu berkualitas rendah?
Mengapa pengalaman penjual memengaruhi hasil negosiasi?
Bagaimana strategi bahasa dan sikap memengaruhi kesepakatan harga?
Mengapa jika penjual memberi harga berbeda pada pembeli yang berbeda sangat berisiko menimbulkan konflik?
Bagaimana peran kepercayaan dalam transaksi jual beli di pasar tradisional?
Mengapa penjual kadang lebih memilih tidak menjual daripada menerima harga rendah?
Mengapa saling menguntungkan menjadi cara terbaik dalam negosiasi?
Bagaimana pengaruh kondisi pasar (ramai/sepi) terhadap hasil negosiasi?
Mengapa pembeli perlu memahami biaya dan risiko yang ditanggung penjual?
Bagaimana etika tawar-menawar mencerminkan nilai sosial di pasar tradisional?
Bagaimana bila dalam negosiasi harga yang disepakati tidak turun drastis?
Mengapa pembeli terlihat cemberut saat meninggalkan toko padahal harga sudah disepakati?
Mengapa ketidakpuasan pembeli kadang ditunjukkan dengan menanyakan harga sepatu lain?
Mengapa pembeli sering membanding-bandingkan harga di toko lain?
Jika Anda pemilik toko dan ada pembeli yang sangat cerewet, bagaimana cara Anda agar pembeli itu tetap membeli sepatu?
Jika Anda pembeli sepatu dan pedagang tidak mau menurunkan harga dengan alasan sepatu itu produk langka, bagaimana argumen Anda agar harga tetap diturunkan?
Mengapa penjual sepatu yang membawa lap dapat membuat pembeli tersinggung saat berkunjung ke toko?
Bagaimana cara penjual agar tidak membuat tersinggung pembeli yang membawa uang receh saat membeli sepatu?
Mengapa saat membeli sepatu di pasar perlu mengajak teman atau saudara?
Mengapa jumlah orang yang ikut menawar tidak menjamin agar pembeli mendapat harga yang lebih murah?
Mengapa penjual perlu mengisi harga pada semua sepatu yang dijual?
Mengapa diskon pada toko sepatu tidak perlu dipasang di semua produk?
Mengapa diskon yang dipasang di depan toko lebih efektif dalam menghadirkan pembeli ke toko?
Bagaimana perasaan Anda ketika menjadi pembeli dan mendapatkan diskon saat berbelanja?
Mengapa pencantuman harga terlalu tinggi pada produk dapat melabeli toko sebagai toko mahal?
Mengapa jumlah orang yang berkunjung ke toko mampu memengaruhi harga barang?
Minggu, 25 Januari 2026
Kalimat Tidak Efektif
Minggu, 11 Januari 2026
Jumat, 09 Januari 2026
Hujan di Atap Seng
Hujan di Atap Seng
Mereka tak punya banyak, tapi mereka punya pagi yang baru. Dan itu cukup untuk bertahan
Oleh Eric Budi Santosa
02 Jan 2026 16:17 WIB · Cerpen
Hujan turun sejak magrib, mengetuk atap seng rumah kecil di ujung gang itu. Suaranya nyaring, seperti ribuan jari mengetuk kaleng, membuat malam terasa lebih panjang dan dingin. Di dalam rumah berdinding tripleks, keluarga kecil itu duduk saling merapat, seolah menukar kehangatan melalui napas masing-masing.
Di lantai, genangan kecil mulai merambat. Embun air menetes dari lubang-lubang kecil di atap seng yang mulai berkarat. Siti, perempuan berusia tiga puluh lima tahun, bergegas meletakkan ember bekas cat di bawah salah satu tetesan. Bunyi ”tik… tik…” memenuhi ruang sempit itu.
”Bunyi musik hujan,” bisik Rara, anak perempuan lima tahun, yang memeluk boneka kain berwarna pudar.
Siti tersenyum payah. ”Iya, musik hujan.”
Rara menggigil. Udara malam merayap masuk lewat celah-celah dinding. Angin membawa rasa asin dan dingin, bercampur bau tanah basah. Sementara Siti menambahkan kain di bawah pintu agar air tak masuk lebih jauh, suaminya, Wawan, baru pulang lembur dari pabrik garmen. Bajunya menempel di badan, bercampur keringat dan bau mesin jahit.
”Maaf lama, hujannya deras banget,” ujar Wawan, mengelap rambutnya yang basah.
Siti hanya mengangguk. Ia sibuk menahan air agar tak mengalir ke tempat tidur tipis di pojok ruang. Ember memenuhi ruangan, menampung tetesan dari berbagai sudut. Rumah itu ibarat kapal kecil yang sedang berjuang menantang badai.
Rara mengangkat wajah, matanya setengah terpejam. ”Ayah, Rara kedinginan.…”
Wawan duduk di sampingnya, mengangkat tubuh kecil itu ke pangkuan. Ia merogoh jaket lusuh, menyampirkannya di punggung Rara. Wawan memejam sejenak, merasakan tubuh putrinya yang menggigil, seolah sedang menyimpan kesejukan dari luar.
”Maafin Ayah belum bisa ganti atapnya,” ucapnya pada Siti, pelan.
Siti tersenyum samar. ”Nggak apa, nanti kita cicil. Yang penting kita bareng.”
Hujan di luar semakin liar. Gemuruhnya mengguncang seng seperti genderang perang, seolah alam sedang menguji daya tahan mereka. Siti teringat cerita orang-orang di pabrik bahwa hujan bisa jadi berkah, tapi baginya, hujan malam ini seperti ujian baru dalam tumpukan ujian yang sudah tak terhitung.
***
Tetesan air itu semakin banyak. Ember yang penuh harus dikosongkan beberapa kali. Wawan dan Siti bergantian, menimba keluar air yang terisi. Kaki mereka dingin, matanya mengantuk, tapi mereka tak punya pilihan. Tempat tidur Rara hanya dilindungi selembar plastik tipis, sementara anak itu berusaha tidur di gendongan Wawan.
Di sudut kamar, ada kaleng biskuit yang disimpan Siti. Bukan biskuit, tapi uang receh hasil menyimpan sedikit demi sedikit dari belanja harian. Rencananya untuk perbaikan atap sebelum musim hujan, tapi kebutuhan lain selalu mendahului. Sakit, sekolah, makan, listrik. Semua datang tanpa permisi.
Di tengah riuh hujan, Siti meraba kaleng itu. Beratnya seperti beban di dada. Ia menatap Wawan yang sedang mengelus rambut Rara, dan hatinya meleleh, antara sedih dan bangga. Mereka tak punya banyak, tapi mereka saling menggenggam.
”Besok aku tanya Pak RT,” kata Siti. ”Siapa tahu bisa pinjem tangga buat naik ke atap.”
Wawan mengangguk, tapi ia tahu, lubang di atap itu tak bisa ditambal dengan sekadar plastik. Seng itu sudah tua, mungkin seumuran dengan rumah kontrakan mereka. Namun, Wawan tak ingin menambah beban istrinya. Ia hanya menatap Rara yang mulai tenang di pelukannya.
Tak lama kemudian, sebuah lubang besar baru muncul di tengah atap. Tetesan berubah jadi aliran kecil. Siti terlonjak. Ember lain pun diambil, namun tak cukup. Siti mengambil baskom, panci, bahkan mangkuk nasi yang tersisa. Semua demi menampung air yang tak kenal ampun.
”Atapnya kebuka, Wan!” teriak Siti.
Wawan mengangguk, tapi ia tahu, lubang di atap itu tak bisa ditambal dengan sekadar plastik.
Wawan berdiri, menatap ke atas, melihat langit kelabu yang bocor dari seng tipis. Ia mengambil selembar kardus, mencoba menutup lubang itu. Namun, kardus basah, roboh, dan air tetap tumpah. Rara terbangun, menangis. Suara hujan menutupi suara tangisnya.
”Ma.…” Rara meraih tangan ibunya.
Siti memeluknya, mencoba menenangkan. Dalam pelukan itu, ia merasakan tubuh Rara yang semakin dingin. Ia mengambil selimut tipis, menutup anak itu.
Wawan memandang ke luar lewat celah pintu. Hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti. Gelap. Hanya remang lampu jalan. Ia mengambil bangku kecil, memanjatnya untuk menempelkan plastik di lubang itu. Tangannya gemetar.
”Siti, pegangin ini,” katanya.
Siti memegang plastik itu dari bawah, sementara Wawan menempelkan selotip seadanya. Plastik itu menahan air sesaat, tapi kemudian kembali bocor. Mereka hanya bisa menatap air yang terus menetes, perlawanan seperti tak berujung.
Wawan turun, duduk di lantai, wajahnya letih. Siti menatap suaminya, lalu ke anaknya, dan merasa dadanya sesak. Namun, ia bangkit, mengambil kain bekas, menutup area sekitar Rara. ”Yang penting Rara nggak kena air.”
Malam itu panjang. Seperti tak pernah selesai. Wawan dan Siti duduk, saling diam. Hanya suara hujan menemani. Di luar, jalanan tergenang, dan suara motor jauh terdengar seperti mimpi. Mereka terjebak dalam rumah kecil yang penuh ember, penuh dingin, tapi juga penuh cinta.
Malam itu panjang. Seperti tak pernah selesai. Wawan dan Siti duduk, saling diam.
***
Mendung masih menggantung di pagi hari. Suara hujan mereda, menyisakan tetes kecil dari ujung atap seng. Rumah itu berantakan: ember dan panci memenuhi lantai, pakaian basah tergantung di tali, dan genangan masih tampak di sudut-sudut.
Rara terbangun, matanya sembab. Tapi, ia tersenyum kecil. Ia mengambil selembar kertas kusut dan pensil warna yang tinggal setengah. Duduk di lantai, ia menggambar pelangi besar di atas rumah kecil dengan atap seng berwarna coklat.
”Ini rumah kita, Bu,” katanya. ”Ada pelanginya.”
Siti tertegun. Senyum muncul di wajah letihnya. ”Cantik sekali.”
Wawan menghela napas panjang, melihat gambar itu. Dalam gambar Rara, rumah mereka dikelilingi bunga, dan di atap ada sehelai kain besar menutup bocor. Meski warna-warna itu tampak luntur, namun Rara memberi goresan cerah pada pelangi, seolah menolak padam.
Siti memeluk Rara dari belakang. ”Kamu pintar.”
Rara tertawa kecil. ”Nanti kalau ada pelangi sungguhan, kita lihat bareng, ya?”
Wawan mengangguk. ”Pasti.”
Di luar, matahari pagi mulai menembus awan. Cahaya tipis masuk lewat celah dinding. Kehangatan kecil itu cukup menyiram hati mereka yang hampir beku semalam.
Siti membereskan ember-ember, menumpahkan air genangan ke luar. Wawan merapikan plastik yang menutup atap sementara. Mereka tak punya banyak, tapi mereka punya pagi yang baru. Dan itu cukup untuk bertahan.
Rumah itu masih bocor, masih kecil. Namun, di atas atap sengnya, pelangi kecil dalam gambar Rara seolah menjadi janji: bahwa di antara kemiskinan dan kepayahan, harapan selalu menemukan jalannya.
Dan ketika Wawan berangkat kerja, membawa bekal nasi sambal sederhana, ia menatap langit, mencari pelangi. Meski tak terlihat, ia tahu, pelangi itu sudah muncul di dalam rumah, dalam gambar Rara, dalam hati mereka.
Hujan di atap seng tetap menjadi lagu malam. Namun, bagi mereka, setiap tetes kini bukan hanya membawa dingin, tapi juga janji akan hari yang lebih terang.
Eric Budi Santosa, lahir di Karanganyar, 16 April 1976. Pernah menulis cerpen di sejumlah media daring dan cetak. Pengalaman menulis cerpen lebih kurang tiga tahun.
UNGGULAN
Biografi Rio Haryanto
Biografi Rio Haryanto Rio Haryanto adalah seorang pembalap mobil profesional asal Indonesia yang dikenal sebagai pembalap Indonesia pertama ...
-
Negosiasi adalah peoses menyelesaikan masalah dari beberapa pihak yang sedang bersengketa. Dalam sengketa itu, setiap pihak menyampaikan pan...
-
Kalimat tidak efektif biasanya terjadi karena pesan yang ingin disampaikan jadi bertele-tele, rancu, atau sulit dipahami. Penyebabnya antara...