Puisi “Seonggok Jagung”, bila dianalisis secara umum, temanya mengenai pendidikan. Puisi tersebut berbicara mengenai kegagalan dalam pendidikan dan kurangnya lapangan pekerjaan. Jika dilihat pada bait pertama,
"Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda yang kurang sekolahan"
Pembaca tentunya mudah menafsirkan bahwa puisi tersebut berbicara tentang pendidikan. Bait tersebut menjelaskan bahwa ada seorang pemuda yang tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini didukung pula pada tiap bait, dari bait kedua hingga bait ketujuh. Pada tiap bait puisi tersebut terdapat penggunaan kata-kata yang mengambarkan pendidikan. Kata-kata tersebut antara lain; kurang sekolahan, tammat S.L.A, buku, pendidikan, dan
Puisi ini juga bertemakan kritik terhadap dunia pendidikan. W. S. Rendra menciptakan puisi “Seonggok Jagung” tersebut pada tahun 1975. Jika menilik kenyataan sejarah, pada tahun 1974 terjadi peristiwa malari (malapetaka 15 Januari). Saat itu timbul kritik yang keras terhadap industrialisasi dan penanaman modal asing. Rendra termasuk penyair yang mengkhawatirkan bahwa dengan adanya industrialisasi akan mengakibatkan rakyat jelata semakin miskin. Ia bersikap terlalu pesimistis terhadap industrialisasi dan penanaman modal asing, sehingga kritik yang dikemukakan begitu keras.
Seorang penyair dalam menulis puisi mempunyai sikap tertentu terhadap
bersikap lugas hanya menceritakan sesuatu kepada pembaca (Waluyo, 1987:125). Nada yang terdapat dalam puisi “Seonggok Jagung” adalah nada bercerita sambil menyindir. Contoh nada bercerita sambil menyindir yang digunakan penyair
dapat dilihat pada bait pertama, kedua, dan bait kedelapan.
Bait pertama:
Seonggok jagung di kamar dan seorang pemuda yang kurang sekolahan
Bait kedua:
Memandang jagung itu, sang pemuda melihat ladang ia melihat petani;
ia melihat panen; dan suatu hari subuh,
para wanita dengan gendongan pergi ke pasar ... Dan ia juga melihat
suatu pagi hari di dekat sumur gadis-gadis bercanda sambil menumbuk jagung menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur tungku-tungku menyala. Di dalam udara murni tercium bau kuwe jagung.
Bait kedelapan:
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya ?
Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibu kota
kikuk pulang ke daerahnya ? ...
Bait pertama dan kedua, penyair menceritakan seorang pemuda yangb erpendidikan dan yang tidak mampu melanjutkan pendidikan.
Suasana yang dapat ditangkap dari puisi ini adalah ketidakadilan dalam dunia pendidikan. Penyair berharap pembaca dapat mendukung ketidakpuasannya terhadap dunia pendidikan yang kurang diperhatikan oleh pemerintah. Oleh karena itu, kita sebagai bangsa yang tetap bercita-cita mencapai masyarakat adil dan makmur, maka ketidakadilan dalam dunia pendidikan harus diberantas.
a) Metafora
Metafora adalah sebuah kiasan langsung tapi tidak menggunakan kata pembanding, atau melihat sesuatu dengan perantaraan benda yang lain (Becker viaPradopo, 2009:66). Penggunaan metafora pada puisi “Seonggok Jagung” terdapat pada bait kedua dan keenam.
Bait ke dua:
Memandang jagung itu, sang pemuda melihat ladang ia melihat petani;
ia melihat panen; ...
Bait ke enam:
Ia memandang jagung itu
dan melihat dirinya terlunta-lunta.
Ia melihat dirinya ditendang dari discotique. Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalage. Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal. ...